Rabu, November 21, 2007

Sego Kucing van Jogjakarta

Sebuah catatan di Yogyakarta, 19 Nopember 2007

Bagi orang Jogjakarta, sego kucing merupakan salah satu ciri khas yang mereka miliki, mungkin bisa dianggap sebagai sebuah icon bagi kota Jogjakarta itu sendiri, yang sebelumnya sudah terkenal dengan sebutan kota pelajar dan kota pariwisata.

Kalau tidak salah, makanan sederhana ini sebenarnya sudah ada sejak lama, namun namanya mulai terkenal ketika banyak para pendatang, terutama yang memiliki uang pas-pasan mencari makanan yang sesuai kantong mereka. Maklum salah satu cara berhemat bagi para backpackers adalah dengan mencari makanan murah sehingga bisa menghemat pengeluaran.

Sego kucing… atau nasi makanan kucing… karena memang porsinya sama besar dengan makanan yang diberikan kepada kucing – kucing peliharaan di Jogja, maka dinamakanlah nasi bungkus sederhana ini dengan sego kucing, sego dalam bahasa jawa berarti nasi. Lagi – lagi kalau melihat sebutannya dan tentu menilik undang – undang HAKI (wah jadi sok jadi orang hukum nih…), seharusnya para kucing di Jogjakarta bisa gemuk – gemuk dan tentu makmur hidupnya, wong mereka mendapatkan royalty alias hak paten karena merk dagang makanan ini pake nama mereka…ya Kucing itu tho! Wah memang ya…saking kreatifnya manusia, kucing – kucing jadinya ndak kebagian makanannya sendiri…ya sego kucing itu…makanya masih banyak kucing – kucing di kota ini yang kurus kering dan harus cari makan dipinggir jalan karena makanannya dijual sebagai daya tarik wisata kota. Weleh…weleh…weleh…apa tho ya maksudnya?? Tapi terlantarnya kucing yang mencari makan di jalanan kota ini pun tidak jauh beda dengan terlantarnya nasib sang empu pemelihara kucing, yang juga masih banyak yang bertarung untuk mencari makan di jalanan. Ada kalanya bahkan si empu kucing ini bersaing dengan para kucing kesayangannya untuk mencari makan bahkan mereka harus rela berbagi tempat berteduh seadanya dengan kucing – kucing di kota ini.

Kembali ke sego kucing, sego atau nasi yang dibungkus kecil – kecil yang besarnya sama dengan segenggaman telapak tangan orang dewasa ini, sekarang menjadi salah satu menu buruan bagi para pelancong yang datang ke Jogjakarta, entah itu karena rasa ingin tahu atau bahkan karena sudah jatuh cinta dengan kekhasan sego kucing itu sendiri.

Sego kucing dikemas dalam bungkusan daun pisang dan koran ini memang khas, apalagi kalau dilihat lauknya yang benar-benar sederhana seperti ikan asin, sambel, urap, krengsengan, bothok tempe, dan lainnya. Tapi jangan dibayangkan kalau semua lauk yang telah disebutkan tadi, semua sudah termasuk dalam satu bungkusan beserta nasinya. Melainkan setiap bungkus sego kucing itu hanya ada satu jenis lauk tadi. Nah loh…gimana kalo dapat sambel doank!? Tenang…semua ada solusinya (kata iklan sih…), disetiap warung sego kucing sudah disediakan lauk pauk tambahan yang siap gigit dan tentu disantap. Lauk pauk itu pun beraneka ragam mulai dari tahu goreng, tempe goreng, bakwan, ceker ayam, ikan asin, ikan teri, ayam rica-rica, bothok, oseng – oseng dan masih banyak lagi macemnya dan tentunya menyesuaikan kemasan sang sego kucing itu sendiri, kalaupun ada yang dibungkus, bungkusnya pun kecil – kecil alias secukupnya. Kalau tidak cukup?? Yang namanya secukupnya, misal satu bungkus tidak cukup yang silahkan ambil lagi sesuai selera anda yang secukupnya hehehe…

Kemarin ketika kembali menikmati nasi khas Jogja ini, saya menemukan sebuah sensasi baru. Setiap bungkus memberikan kejutan bagi para penikmatnya, apalagi kalo anda tidak bertanya kepada sang penjualnya...SERU! curiousity anda dipicu untuk selalu aktif bertanya – tanya ”kira – kira bungkusan ini isinya apa ya??”. hal ini mengingatkan saya ada kue pretzel atau kue keberuntungan di dunia barat sana.

Pertama kali saya mengambil dapat nasi dengan oseng – oseng, kemudian karena merasa kurang pas saya nambah lauk ayam rica – rica dan lagi – lagi, entah kebetulan atau karena Tuhan tahu saya suka nyisip tulang, ayam rica – rica itu banyak banget tulangnya...akhirnya menambah seru dan nikmatnya ”penghabisan” bungkus pertama nasi kucing. Kemudian karena saya merasa masih perlu mengisi perut sebagai ganti makan malam, maka saya pun mengambil bungkusan sego kucing yang kedua. Alamakjaaaarrrrr!!!!........saya dapat bungkusan nasi plus sambel doank! Mau tak mau akhirnya saya ambil tahu goreng sebagai pelengkap, itung – itung mengingat tahu penyet kota asal Surabaya, walaupun sambelnya berbeda.

Selanjutnya ada teman setia tatkala kita menikmati sego kucing, makan tanpa diikuti minuman tentu belum lengkap bukan?? Nah sebagai teman makan sego ini, orang Jogja selalu menyertainya dengan menyeruput minuman Nasgitel, singkatan dari panas, legi, kentel atau panas, manis dan kental. Macemnya?? Tentu banyak macamnya, ada kopi, teh, jeruk, jahe dan yang jelas semuanya panas, manis dan kental dan tentu disesuaikan dengan selera kecukupannya masing – masing penikmatnya. sekarang lengkap sudah sego kucing lengkap dengan lauknya dan tentu nasgitel, hmm.....kalo gitu silahkan menikmati! Nyaamm....

Wah benar – benar surprise yang tak terduga dari sebuah makanan sederhana yang namanya sego kucing ini, dan ternyata hanya dengan sego kucing kita bisa memperoleh banyak pelajaran...VIVA Sego kucing! Bayangkan saja kita belajar tentang kehidupan yaitu tentang ”apa yang kita harapkan belum tentu bisa terwujud sesuai dengan keinginan kita”, walaupun saya belajar NLP dan Law of Attraction, satu – satunya attraction yang saya pakai tadi malam adalah curiousity, karena memang saya pengen tahu gimana menikmati kejutan dari tiap bungkusan sego kucing itu. Kita juga belajar tentang mind yaitu gimana kita bisa tetap hidup dan tetap berpikir sebagai energi untuk tetap menjadi seorang manusia, untuk tetap ”hidup” kita harus memicu dan memacu curiousity kita sehingga kita tetap bergairah untuk berpikir dan mengaktifkan saraf – saraf pada Grey matters area yang kita miliki. Kemudian ada lagi, kita bisa belajar marketing. Kalau seorang penjual nasi kucing tahu tentang The Luck Factor , bayangkan bahwa nilai itu bisa menjadi nilai jual yang tinggi bila dikelola dengan baik. Bila setiap bungkus sego kucing bisa memberikan sensasi keterkejutan para penikmatnya dengan isinya yang ”itu doank”, bagaimana bila itu digabungkan dengan The Luck Factor , mungkin ditambah dengan kata motivasi atau quotes tentu efeknya akan lebih mengesankan dan luar biasa. Selain itu nilai marketing kedua, yang bisa kita peroleh adalah ”give the customer the unexpected” dan mungkin “expect the unexpected”, yaitu kita berikan kejutan yang tidak pernah diharapkan oleh konsumen, sebuah nilai plus yang mengejutkan atau berikan pelayanan yang tidak pernah dibayangkan oleh para pelanggan kita.

Yogyakarta, 19 Nopember 2007

Salam Inspirasi Luar Biasa Prima Sekaleee!!!

Fei Hestamma W.

Senin, November 12, 2007

Pengemis dan Nasi Bungkus

Pengemis dan Nasi Bungkus



Ada sebuah kisah menarik tentang tiga orang pengemis yang sedang tiduran di emperan sebuah toko. Karena hari begitu malam dan disertai hujan yang sangat lebat. Membuat mata mereka begitu mengantuk. Akhirnyamereka tertidur lelap.



Esok hari ketika mereka bangun. Mereka dikejutkan karena disamping mereka sudah ada tiga bungkus nasi yang masih hangat. Entah siapa yang meletakkan nasi tersebut. Yang penting bagi mereka itu adalah karunia dari tuhan.



Pengemis pertama merasa senang luar biasa. Dan tanpa basa basi. Dia langsung menyantap hidangan pagi itu. Ketika perut sudah kenyang. Dia pun kembali lagi tidur.



Pengemis kedua merasa senang juga. Tapi dia terus bertanya dalam hati siapakah yang bermurah hati mau memberi mereka rejeki dipagi hari ini. Dia pun melihati nasi tersebut. Isinya pun sederhana sekali. Hanya satu butir telur dan sedikit sayuran. Dan dia bertanya dalam hati, kok bukan ayam. Memberikan rejeki kok tanggung-tanggung. Sambil terus bertanya dia pun menghabiskan nasi tersebut.



Lain halnya dengan pengemis ketiga. Dia memang senang tapi ditahannya terlebih dahulu. Sambil mengambil posisi berdoa, dia pun mengucap syukur kepada Tuhan. Karena sudah diberi sebuah karunia di pagi hari ini. Dan dia mendoakan semoga yang memberikan nasi ini diberikan rejeki yang berlebih. Terakhir barulah dia makan nasi tersebut dengan lahap.



Bila anda disuruh memilih, dari ketiga pengemis tersebut mana yang paling anda sukain? Pasti jawaban anda adalah pengemis ketiga.



Cerita diatas mengajarkan kita bagaimana kita perlu bersyukur pada saat menerima pemberian orang. Saat si pengemis ketiga, menerima bahwa nasi tersebut adalah rejeki bagi dia. Maka hal yang pertama dia lakukan adalah BERSYUKUR.........Lalu dia pun berdoa. Semoga yang memberikan rejeki bagi dia, dilipatgandakan rejekinya. Dan terakhir baru dia bisa menikmati rejekinya.

Menurut orang bijak, yang membuat kita banyak tenggelam dalam derita adalah, kurang terampilnya kita mensyukuri nikmat. Langkah bersyukur ini menjadi kunci pokok, bila kita mau mengaktifkan attractor faktor kita. Marilah kita nikmati karunia Tuhan dengan penuh kesyukuran. Selain akan menjadi amal, karunia tersebut akan mewarnai hidup kita dengan penuh kenikmatan dan kesyukuran. Setiap susah senang yang kita dapati, harus membuat kita lebih fokus lagi kepada Tuhan, bukan malah menjauhinya.





Thanks to :

Daniel Kurniawan

[Mind Educator]

www.rumahmotivasi.com

Senin, November 05, 2007

Goo Outdoor

Goo Outdoor
Goo Outdoor,
originally uploaded by Fei's Image Bundle.
Mencari ilmu untuk mengembangkan diri di lereng gunung gede pangrango, di sebuah lereng bernama situ gunung bagian dari cisaat sukabumi. menempa, menjelajah, dan belajar memaknai semua alur kehidupan demi mencari dan menggapai hal terbaik dalam diri, sebagai bekal untuk dapat berbagi bagi sesama dan alam disekitarku