Selasa, Januari 27, 2009

Kronologis dan Fakta di Balik Agresi Israel di Jalur Gaza

Selasa, 27/01/2009 12:02 WIB

Agresi Israel terhadap Jalur Gaza yang dimulai 27 Desember 2008 dan berakhir setelah hampir satu bulan ternyata merupakan sebuah akumulasi rencana Israel terhadap rakyat Palestina. Berbagai perkembangan yang terjadi di Palestina, khususnya di Gaza membuat Israel melakukan manuver-manuver yang tak mereka duga. Inilah perjalanan agresi Israel di Jalur Gaza dengan beberapa fakta di baliknya.

1.) Tahun 2005, Isarel memerintahkan semua orang Yahudi yang masih ada di Jalur Gaza untuk pindah dan mengonsentrasikan diri ke Tepi Barat. Salah satu dari penarikan besar-besaran ini adalah untuk mengetahui seberapa besar kekuatan Hamas.

2.) Tahun 2006, Hamas memenangi pemilu dengan telak, sesuatu yang tak diduga-duga oleh Israel dan pihak manapun. Mereka tadinya sudah menginstalasi Fatah sebagai institusi resmi Palestina, namun betapa shocked dan ngerinya Israel ketika realitas yang ada ternyata menunjukan rakyat memilih Palestina.

3.) Sekitar 70% Hamas adalah anggota Ikhwan. Ini seperti dikatakan oleh salah seorang anggota Hamas yang tak ingin identitasnya diketahui banyak orang. Imam Hasan Al-Bana mempunyai ikatan sejarah yang kuat dengan Hamas dan Palestina. Ikhwan mempunyai kewajiban untuk terlibat langsung dalam perlawanan rakyat Palestina terhadap penjajahan Israel. Usai kemenangan Hamas dalam pemilu 2006 itu, Israel mulai menyadari jika inti perlawanan Palestina adalah Hamas.

4.) Tiga bulan setelah kemenangan Hamas, Israel mengajak semua negara Barat dan juga AS untuk memboikot hasil pemilu itu. Salah satu bentuk kongkret boikot Israel adalah dengan cara menutup Gaza dari dunia luar. Mengapa Jalur Gaza dan tidak daerah Palestina lainnya? Bisa dikatakan daerah lainnya sudah berada dalam kekuasaan Israel melalui otoritas Fatah. Kedua, Gaza menjadi semacam base-camp Hamas dan rakyat Palestina yang tak akan pernah mundur dari penjajahan Israel. Pada periode ini, Gaza hanya ditutup dari akses dunia luar saja. Isolasi pada tiga bulan pertama ini dimaksudkan agar rakyat Palestina menyalahkan Hamas—dengan Hamas memenangi pemilu, maka dunia menutup Gaza.

5.) Setelah tiga bulan pertama tersebut, kenyataannya, warga Gaza khususnya, dan rakyat Palestina umumnya, semakin komit dan percaya terhadap Hamas. Mereka semakin yakin bahwa bersama Hamas, Palestina akan mempertahankan tanahnya dan merebut apa yang telah dirampas oleh Yahudi.

6.) Israel makin pening menghadapi bukti seperti itu. Mereka kemudian mencabut listrik dan air di Jalur Gaza untuk tiga bulan berikutnya. Israel berharap dengan melakukan tindakan seperti ini, warga Gaza akan mulai menunjukan kebencian terhadap Hamas. Seperti yang diketahui oleh dunia, Gaza tetap bisa survive dan seperti asyik menyiapkan banyak hal di tengah kepungan Israel itu.

7.) Tiga bulan berikutnya (berarti sudah hampir 1 tahun sejak pemilu 2006), Israel benar-benar menutup semua kebutuhan hidup untuk Gaza. Mulai dari obat-obatan, listrik, air, sampai juga tidak ada jalur keluar dan masuk bagi rakyat Gaza untuk keluar dari daerahnya.

8.) Menjelang akhir 2008, bertepatan dengan akan segera lengsernya George Bush dan dilantiknya Barack Hussein Obama di AS, Israel menggempur Gaza. Mereka menargetkan penyerangan ini hanya untuk beberapa hari, namun kenyataannya setelah hampir satu bulan, mereka tidak berhasil menaklukan Gaza. Walaupun Gaza lebur dan lebih dari 1000 orang tewas, tidak ada satupun misi Israel yang tercapai. Sekitar hari ke-10 masa agresi, banyak tentara Israel yang stress dan minta dipulangkan, karena takut menghadapai perlawanan Hamas dan rakyat Palestina secara langsung.

9.) Selama agresi berlangsung, kurang lebih sebulan, sekitar 500 anak Palestina tewas. Namun pada saat yang sama, banyak terjadi kelahiran di Gaza, dan yang menghebohkan adalah kelahiran itu hampir rata-rata kembar, paling sedikit 2 bayi. Sekarang diperkirakan ada 5000 bayi baru di Gaza yang lahir selama agresi Israel berlangsung.

10.) Di seantreo dunia, dukungan paling besar yang datang untuk Palestina berasal dari Indonesia. Lebih dari Rp. 50 milyar disumbangkan oleh Indonesia hanya dalam kurun waktu kurang 1 bulan saja, baik dari pribadi yang dikumpulkan secara kolektif ataupun institusi, dan ini melebihi sumbangan rakyat manapun di semua negara yang konsern terhadap Palestina. Rakyat Palestina terharu dan tak akan pernah melupakan rakyat Indonesia. Jika kebetulan kita berbincang dengan rakyat Palestina, baik melaui on-line ataupun secara langsung, niscaya kita akan merasakan langsung pengakuan dan penghormatan dari mereka akan hal ini.

11.) Gaza hanya dijadikan sebagai sasaran antara saja. Tujuan Israel tetap walau bagaimanapun adalah menguasai Masjidil Aqsa. Gaza hanya dijadikan sebagai pengalih perhatian umat muslim agar lupa pada Masjidil Aqsa.

(sa/berbagai sumber)

sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/kronologis-dan-fakta-di-balik-agresi-israel-di-jalur-gaza.htm

Kamis, Januari 22, 2009

Inilah Gaya Pemimpin-Pemimpin Arab

Selasa, 20/01/2009 12:21 WIB

Belum lepas dari ingatan kita, bagaimana keras kepala dan keras hatinya para pemimpin Arab melihat tragedi di Gaza Palestina. Mesir yang paling dekat dengan perbatasan Gaza sampai detik ini pun belum dan tidak mau membuka perbatasannya di Raffah. Begitu juga dengan Jordan, mereka secara geografis termasuk yang dekat dengan Gaza, hanya karena terikat perjanjian dengan Israel – mereka tega membiarkan saudara-saudara muslimnya di Gaza terbantai oleh Zionis Israel. Setali tiga uang dengan Arab Saudi, ali-alih menunjukkan sikap yang tegas terhadap aksi holocaust Israel di Gaza, untuk menghadiri KTT di Doha pun mereka enggan.

Mungkin gambar-gambar dibawah ini bisa memberikan penjelasan atas sikap kepala batu nya para pemimpin Arab melihat tragedi di Gaza.









Dari kiri, Raja Abdullah (Saudi), Menlu Arab Saudi, Saud Al-faisal, Raja Abdullah (Jordan), George Bush









Menlu Israel Tzipi Livni bersalaman mesra dengan Presiden Husni Mubarak (Mesir)








Mahmud Abbas (Fattah) berjabat tangan mesra dengan Menlu Israel Tzipi Livni









George Bush, Ehurt Olmert dan Husni Mubarak saling mempersilahkan








Raja Abdullah (Saudi) bergandengan tangan akrab dengan George Bush








Senyum saudara kembar, Ehurt Olmert dan Husni Mubarak









Raja Abdullah (Saudi) saling membalas cium dengan George Bush

Jadi wajar kalau para pemimpin Arab sangat 'banci' menghadapi Zionis Israel dan tidak tegas dalam menentang agresi dan holocaust yang dilakukan oleh Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza.

Kita berdoa bersama semoga para pemimpin Arab dan semua pemimpin Muslim terbuka hatinya melihat tragedi kemanusiaan ini. Dan semoga mereka tidak lupa dengan firman Allah SWT :

"Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin....."(Ali-Imran[3]:28)

(fq/berbagai sumber)

sumber: http://www.eramuslim.com/berita/dunia/beginilah-gaya-pemimpin-pemimpin-arab.htm


Inilah Gaya Pemimpin-Pemimpin Arab

Selasa, 20/01/2009 12:21 WIB

Belum lepas dari ingatan kita, bagaimana keras kepala dan keras hatinya para pemimpin Arab melihat tragedi di Gaza Palestina. Mesir yang paling dekat dengan perbatasan Gaza sampai detik ini pun belum dan tidak mau membuka perbatasannya di Raffah. Begitu juga dengan Jordan, mereka secara geografis termasuk yang dekat dengan Gaza, hanya karena terikat perjanjian dengan Israel – mereka tega membiarkan saudara-saudara muslimnya di Gaza terbantai oleh Zionis Israel. Setali tiga uang dengan Arab Saudi, ali-alih menunjukkan sikap yang tegas terhadap aksi holocaust Israel di Gaza, untuk menghadiri KTT di Doha pun mereka enggan.

Mungkin gambar-gambar dibawah ini bisa memberikan penjelasan atas sikap kepala batu nya para pemimpin Arab melihat tragedi di Gaza.


Dari kiri, Raja Abdullah (Saudi), Menlu Arab Saudi, Saud Al-faisal, Raja Abdullah (Jordan), George Bush








Menlu Israel Tzipi Livni bersalaman mesra dengan Presiden Husni Mubarak (Mesir)






Mahmud Abbas (Fattah) berjabat tangan mesra dengan Menlu Israel Tzipi Livni







George Bush, Ehurt Olmert dan Husni Mubarak saling mempersilahkan






Raja Abdullah (Saudi) bergandengan tangan akrab dengan George Bush












Senyum saudara kembar, Ehurt Olmert dan Husni Mubarak









Raja Abdullah (Saudi) saling membalas cium dengan George Bush










Jadi wajar kalau para pemimpin Arab sangat 'banci' menghadapi Zionis Israel dan tidak tegas dalam menentang agresi dan holocaust yang dilakukan oleh Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza.

Kita berdoa bersama semoga para pemimpin Arab dan semua pemimpin Muslim terbuka hatinya melihat tragedi kemanusiaan ini. Dan semoga mereka tidak lupa dengan firman Allah SWT :

"Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin....."(Ali-Imran[3]:28)

(fq/berbagai sumber)

sumber :

http://www.eramuslim.com/berita/dunia/beginilah-gaya-pemimpin-pemimpin-arab.htm

Senin, Januari 19, 2009

Ketangguhan dan Keimanan Warga Gaza Menakjubkan

Jumat, 16/01/2009 15:04 WIB

Sungguh menakjubkan mental dan keimanan warga Gaza. Di tengah gemuruh pesawat tempur Israel yang menjatuhkan bom-bom mematikan, warga Gaza tetap melangkahkan kaki ke masjid begitu suara adzan berkumandang.

Pemandangan ini terlihat di kawasan Syaikh Radwan, di barat Gaza. Tatkala suara adzan berkumandang dari masjid Al-Taqwa yang sudah kehilangan menaranya akibat bombardir pasukan Zionis, warga kota itu langsung berkumpul di masjid untuk menunaikan salat berjamaah.

"Begitu mendengar suara adzan, mereka langsung berdatangan ke masjid. Setiap hari, kami salah diantara reruntuhan masjid kami," kata imam Masjid Al-Taqwa.

Lebih dari 50 masjid di Jalur Gaza hancur oleh bom-bom yang dimuntahkan pesawat-pesawat tempur Israel. Serangan terburuk menimpa Masjid Ibrahim Al-Maqadma. Masjid itu itu dibombardir saat warga Gaza menunaikan shalat, yang menyebabkan 16 jamaah syahid dan beberapa jamaah lainnya luka-luka.

Tapi, meski masjid-masjid mereka hancur, warga Gaza tetap berduyun-duyun ke masjid saat mendengar panggilan shalat dan pemandangan seperti ini hampir terlihat di seluruh Gaza.

"Warga Gaza dicekam kesedihan ketika melihat serangan Israel menghancurkan masjid-masjid mereka. Tapi, begitu mendengar suara adzan keesokan harinya, mereka kembali semangat," ujar Awad Al-Sha'er, imam Masjid Khulafa Rashidiin di utara Gaza.

"Apapun yang terjadi, masjid-masjid kami akan tetap penuh. Kami tidak akan pernah membiarkan penjajahan menjadikan masjid-masjid kami kosong," tukas Al-Sha'er.

Warga Gaza berani mengambil resiko terkena bom atau ditembak pasukan Israel setiap kali mereka berangkat ke masjid. "Diam di rumah pun, tidak membuat kami aman. Jika memang sudah saatnya bagi kami untuk mati, maka kami akan mati," ungkap Abu Anas Al-Zahama, salah seorang warga Gaza yang selalu shalat berjamaah di masjid.

Selain menjadi tempat ibadah, masjid-masjid di Gaza juga berfungsi untuk membantu meringankan penderitaan warga Gaza sepanjang agresi biadab Israel ke wilayah itu.

"Sejak perang dimulai, masjid-masjid mengintensifkan bantuan untuk warga. Bukan hanya bantuan makanan, kami juga memberikan pengobatan dan uang," kata Mohammaed Anshour, imam Masjid Al-Bukhari.

Masjid Yarmuk di Gaza City melakukan penggalangan bantuan untuk warga yang rumahnya hancur oleh serangan pasukan Zionis. Dan penggalangan dana itu disambut antusias oelh warga Gaza lainnya. Meski menderita akibat serangan pasukan Zionis, warga Gaza masih bisa memberikan sumbangan untuk menolong saudara-saudaranya yang lain. Satu lagi pemandangan menakjubkan di Gaza.

Ahmad, seorang bocah berusia 8 tahun misalnya, menyumbangkan semua uang yang berada di celengannya. Begitu pula Abu Ammar, seordang pedagang, menyumbangkan selimut dan pakaian untuk warga yang mengungsi di sekolah-sekolah yang dikelola UNRWA.

"Kita harus tetap bersatu dan masjid-masjid kami akan selalu menunjukkan sikap persatuan itu. Semangat semacam ini, membuat kami tidak mudah dikalahkan," kata seorang warga Gaza yang sedang menyumbangkan uangnya ke sebuah masjid. Subhanallah... (ln/iol)

sumber :

http://www.eramuslim.com/berita/dunia/ketangguhan-dan-keimanan-warga-gaza-yang-menakjubkan.htm

Korban Serdadu Israel Versi Brigade Al-Quds

Oleh Prince of Jihad pada Ahad 18 Januari 2009, 09:12 PM

Gaza (arrahmah.com) - Brigade Al-Quds, sayap militer Gerakan Jihad Islam melaporkan, para pejuang Palestina menegaskan bahwa sejak perang dimulai hingga kini (15/01) mereka telah menewaskan sedikitnya 227 orang Zionis Israel. Komite Perlawanan Palestina dalam pernyataan militernya dan satu naskahnya telah dikirimkan kepada televisi Al-Alam bahwa mereka telah menewaskan 183 tentara, 44 warga dan mencederai 207 lainnya, ditambah jumlah yang tidak terbatas dari korban tentara baik yang tewas maupun luka-luka di pihak Israel.

Berdasarkan pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh Brigade Ezzeddin Qassam (Hamas), Brigade Syuhada Al-Quds (Fatah), Brigade Al-Quds (Jihad Islam), Brigade Nasir Salahuddin (Komite Perlawanan Kerakyatan Palestina), Brigade Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina, Brigade Ahmad Abu Ar-Rish, Brigade Abu Ali Mustafa dan Brigade Jihad Jibril, mereka telah melakukan sekitar 160 operasi militer menghadapi militer Zionis Israel selama 20 hari.

Dari operasi yang dilakukan para pejuang Palestina berhasil menewaskan 227 Israel dan mencederai 207 lainnya dalam 32 operasi militer sementara dalam 128 operasi lainnya tidak disebutkan jumlah korban di barisan militer Israel, karena sulit menghitungnya secara khusus. Operasi-operasi militer berhasil menembus masuk ke barisan musuh, namun pihak Zionis Israel memberlakukan sensor ketat sehingga tidak diketahui secara pasti kerugian yang mereka derita.

Dalam pernyataan itu disebutkan bahwa Brigade Ezzeddin Qassam berhasil menewaskan 113 tentara Israel dan mencederai 110 lainnya dan telah meluncurkan banyak roket dan mortir ke daerah-daerah permukiman zionis di Palestina pendudukan dalam 25 operasi.

Brigade Syuhada Al-Quds menegaskan bahwa dalam 17 operasi dan infiltrasi yang mereka lakukan berhasil menewaskan 10 tentara dan mencederai 60 lainnya. Jumlah ini belum termasuk korban akibat tembakan roket ke arah Palestina pendudukan dan kontak senjata bersama unit-unit kecil tentara Israel yang berada di sekitar Gaza.

Brigade Al-Quds menyatakan berhasil menewaskan 12 tentara Israel dan mencederai 5 lainnya dalam 16 operasi militernya di Gaza. Jumlah ini belum termasuk banyaknya korban yang tewas dan cedera akibat serangan roket di Palestina pendudukan.

Brigade Nasir Salahuddin menyebut berhasil menewaskan 2 tentara dan mencederai 12 lainnya. Mereka juga berhasil menciptakan kerugian besar di pihak musuh dan berhasil menghancurkan kendaraan-kendaraan militer dalam 45 operasi militer.

Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina berhasil menewaskan 39 tentara Israel dan mencederai 5 lainnya dalam 19 operasi yang dilakukan di dalam kota Gaza dan daerah-daerah Palestina pendudukan.

Brigade Ahmad Abu Ar-Raisy berhasil menewaskan 7 tentara Israel dan mencederai lebih dari 17 lainnya selama serangan Israel. Jumlah itu belum termasuk korban akibat tembakan sejumlah roket ke daerah-daerah permukiman Palestina pendudukan dan kerugian yang diterima musuh.

Sementara Brigade Jihad Jibril mampu melakukan sejumlah operasi di Gaza dan Palestina pendudukan serta berhasil menewaskan dan mencederai banyak tentara Israel di daerah-daerah di Jalur Gaza.

Militer Zionis Israel sampai saat ini melakukan sensor ketat terkait kerugian yang dideritanya selama ini agar dapat menahan anjloknya semangat pasukannya. Terlebih setelah munculnya tanda-tanda kecenderungan tentara Israel menolak untuk membunuh penduduk sipil Palestina.

Sumber-sumber Zionis Israel terakhir mengakui seorang tentara cadangannya menolak dikirim ke medan perang sebagai bentuk protesnya membantai orang-orang tak berdosa. Ia didili dan dipenjara selama 14 hari.

Sumber-sumber itu juga menegaskan untuk pertama kalinya sejak perang muncul keinginan menolak perintah militer Israel dengan alasan ideologi yang berujung pada penolakan seorang tentara cadangan untuk ikut dalam operasi militer.

Michael Sefarad pengacara gerakan “berani menolak” menyebut 8 tentra cadangan Israel mengkonsultasikan keinginan mereka untuk mengumumkan menolak perintah untuk ikut dalam operasi militer di Gaza. Mereka bertanya mengenai hukuman paling berat yang akan mereka terima bila menolak, sambil mereka juga menegaskan bahwa semakin lama operasi militer keinginan mereka menolak akan semakin memuncak.

Penulis dan pakar militer Avi Vaksman dalam artikelnya yang dipublikasikan pekan lalu oleh koran Maariv menulis, sumber-sumber Israel tidak akan mengakui jumlah korban yang tewas dan cedera di pihak militer rezim ini agar tidak memberikan kekuatan dan spirit yang lebih kepada para pejuang Palestina dan sekaligus tidak menurunkan semangat tentaranya yang kalah. Vaksman menambahkan, Israel tidak akan mengumumkan jumlah korban kecuali hanya menyebut 10 korban tewas. Mereka tidak akan mengumumkan lebih dari itu, sekalipun jumlah korban telah melebihi seratus tentara. Karena di Israel ada undang-undang yang melarang korban tentara lebih dari 10 orang. (Prince Muhammad/sblcyber/arrahmah.com)

sumber :

http://www.arrahmah.com/index.php/news/read/3101/korban-serdadu-israel-versi-brigade-al-quds

Kamis, Januari 15, 2009

Israel Ingin Segera Keluar Dari Gaza

Kamis, 15/01/2009 10:28 WIB

Israel tak ingin berperang lebih lama di Gaza. Militer Israel sudah merasakan pahitnya perang. Menghadapi para pejuang Palestina, yang terus bertahan menghadapi serangan missil dari udara, darat dan laut. Sebagian militer Israel sudah kehilangan disiplin. (Yerusalem Post, 15/1/2009). Diantara anggota tentara Israel sudah ada yang melakukan desersi. Mereka tak sanggup menghadapi perang di Gaza, dan harus membunuhi orang-orang sipil, anak-anak, wanita dan orang tua.

Dalam pertemuannya ‘Trioka’ (Perdana Menteri Olmer, Menlu Tzipi Livni, dan Menhan Ehud Barak), mendiskusikan, bagaimana caranya melakukan ‘exit’ (keluar) dari Gaza? ‘Trioka’ itu menyetujui mengirim Deputi Menhan Israel, Amos Gilad, ke Cairo, bertemu dengan sejumlah pejabat di Cairo, menyusun formulasi ‘perdamaian’, agar Israel segera dapat keluar dari Gaza. Israel, nampaknya menyetujui formula yang dibuat Mesir, dan ‘gencatan senjata’ itu, yaitu dimulai dengan Hamas menyerahkan Kopral Gilad Shalid ke Mesir, sebagai pra kondisi bagi terciptanya perundingan gencatan senjata. Namun, fihak Hamas belum sepenuhnya menerima formula yang dibuat Mesir. Meskipun, nampaknya telah diklaim bahwa, wakil Hamas Dr.Bardawel, dapat menyetujui isi formula gencatan senjata.

Menteri Pertahanan Ehud Barak telah membeberkan rencana gencatan senjata kepada Olmert dan Tzipi, sebaliknya Olmert dan Tzipi, ingin perang dilanjutkan sampai tujuan perang itu tercapai. Olmert, nampaknya percaya, tujuan perang akan dapat terwujud. Olmert mendapatkan dukungan dari Kepala Shin Bet (Dinas Keamanan Dalam Negeri Israel), Yuval Diskin, dan Kepala Mossad, Meir Dagan. Sedangkan, Menhan Ehud Barak, menyatakan bahwa tujuan perang sudah tercapai. Silang pendapat antara ‘Trioka’, menimbulkan ketidakpastian di Israel, hal ini akan terjadi seperti ketika perang di Lebanon. Para pemimpin politik dan militer Israel tidak mencapai kesepakatan dalam mengambil keputusan perang.

Nampaknya, ‘Trioka’ (Olmert, Tzipi Livni, Ehud Barat), masih menunggu kepastian tentang nasib Kopral Gilad Shalid dari pejabat intelijen Mesir, sebelum mengambil keputusan. Di sisi lain, Menlu Israel, Tzipi Livni melakukan negosiasi dengan Deputi Menlu AS, Ahahron Abramowitz, yang bertujuan mencapai kerjasama Israel-AS, menangani penyeludupan senjata dari perbatasan Mesir ke Gaza. Tzipi memaksa kepada Ahahron agar perjanjian antara Israel-AS dapat ditandatangani sebelum Condoleeza Rice meninggalkan Deparlu AS.

Ada keinginan kuat yang menjadi tujuan gencatan senjata bagi Israel, yang diakomodasi Mesir dalam formula gencatan senjata itu, pertama Hamas harus melucuti senjatanya, ini sebagai rencana menciptakan keamanan Israel. Kedua, kerjasama militer antara Israel, Mesir, Amerika, dan Otoritas Paelstina (PA), guna menghentikan penyelundupan senjata, baik lewat darat atau laut. Sehingga, tidak ada lagi ancaman keamanan bagi Zionis-Israel. Ketiga, mengembalikan Otoritas Palestina (PA),yang dipimpin Presiden Mahmud Abbas, mengambil alih pemerintahan di Gaza. Gaza tidak lagi dibawah kontrol Hamas.

Para pemimpin Israel memberikan perhatian penuh tentang adanya penyelundupan senjata, yang mereka anggap sebagai ancaman yang sangat serius bagi keamanan Israel. Selama ini, memang belum termasuk menjadi prioritas utama Israel, terkait dengan penyelundupan senjata dari Mesir. Meskpun, selama ini Mesir menutup rapat-rapat perbatasannya.

Israel juga sudah melobby para pejabat Keamanan AS, termasuk dengan Menhan AS, yang baru Robert Gate, untuk mendapatkan jaminan keamanan dari AS, khususnya berkaitan dengan penyelundupan senjata dari Mesir ke Gaza. Para pejabat Israel, melalui Menlu Tzipi Livni, meminta komitment Menhan AS, Robert Gate, dan Menlu AS yang baru, Hallary Clilnton, agar kerjasama dibidang intelijen dan militer, guna mengakhiri penyeludupan senjata, dan dapat digunakan para ‘teroris’, yang mengancam keamanan Israel menjadi sebuah keputusan politik antara Israel-AS.

Kemungkinan perang belum segera berakhir. Kemampuan militer Israel dalam perang di Gaza akan diuji. Israel menurut Menhan Ehud Barak, tujuan perang yang dilakukan Israel sudah tercapai. Yaitu mereduksi kekuatan militer Hamas, dan menghancurkan seluruh infrastrukturnya. Tapi, sampai hari ini belum ada tanda-tanda bahwa para pejuang Hamas mengerek bendera ‘putih’. Sekarang, kekuatan-kekuatan yang terlibat dalam perang di Gaza sedang berhitung, termasuk Israel ingin melakukan ‘exit’ (keluar) dari Gaza, dan menunggu momentum, yang mereka inginkan. Para pemimpin Zionis-Israel sedang berjudi dengan nasib dan masa depan mereka.

Adakah mereka akan berhasil keluar dari Gaza, dan tanpa harus kehilangan muka, serta acaman akan eksistensi mereka sebagai sebuah entitas politik di masas depan? Kehancuran di Gaza yang massif, dan korban yang jumlahnya sangat besar, menyebabkan rejim Zionis-Israel telah menjadi musuh seluruh umat manusia. Jika, Israel memenangkan perang di Gaza, tapi sejatinya Israel telah kalah, akibat kejahatan yang mereka ciptakan sendiri. (M/Hartz)

sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/israel-ingin-segera-keluar-dari-gaza.htm