Jumat, September 12, 2008

HATI – HATI HEAT STROKE di BULAN RAMADHAN

Heat Stroke, mungkin bagi sebagian orang sudah kenal apa yang disebut dengan Heat Stroke. Terutama bagi teman-teman penggiat aktivitas alam terbuka, gangguan kesehatan ini sudah umum dan biasa menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi. Tetapi mungkin bagi sebagian yang lain belum tahu apa itu Heat Stroke.

Dalam kesempatan ini akan coba saya sharing deh…
Ahamdulilah…2 hari ini saya diingatkan kembali untuk belajar lagi apa itu Heat Stroke (mungkin karena udah lama gak beraktifitas Out Door kali ya…).
2 hari ini saya sedikit lengah, dengan cuaca kota Surabaya yang panas tenyata melindungi diri dengan jaket dan masker ternyata tidak cukup, dan perlu diingat adalah walaupun dengan “seragam harian” seperti itu, sirkulasi udara memang harus berjalan dengan lancar sehingga bisa mendinginkan suhu tubuh dan ternyata ketika saya sadar…saya Terserang PANAS alias HEAT STROKE.

Apa sih Heat Stroke itu?
Heat Stroke secara harafiah artinya adalah Serangan Panas, kata lainnya adalah Peningkatan Suhu Tubuh yang cepat dan drastis yang diakibatkan karena terpapar hawa panas dalam jangka waktu yang lama.
Persamaannya adalah Hyperthermia atau Heat Exhaustion. Lawannya atau gangguan kebalikannya adalah Hypothermia atau penurunan suhu tubuh yg dratis.

Dibawah ini adalah sedikit penjelasan (dalam bahasa inggris) tentang gejala-gejala serangan panas tersebut….dan akan saya coba untuk berikan terjemahannya (mohon maaf kalo kurang pas)…

Hyperthermia/Heat Exhaustion Sypmtom & Signs
- Increased thirst (Haus yang berlebihan)
- Weakness (Kecapekan, kelelahan)
- Mental or physical disorientation (disorientasi mental atau fisik)
- Nausea (berhalusinasi)
- Profuse sweating (keringat yg berlebihan)
- Cold or clammy skin (kulit dingit dan keriput)
- Visual Disturbances (gangguan visual, kabur)

Heat Stroke Symptom & Signs :
- Confusion (Cemas)
- Bizarre behavior (perilaku diluar kebiasaan)
- Strong or rapid pulse/heartbeat (detak jantung cepat/kuat)
- Extreme fatique (kelelahan yang sangat)
- Loss of consciousness (hilang kesadaran)
- Body temperature over 104 degrees Fahrenheit (suhu tubuh diatas kurang lebih 38 derajat celcius – maaf kalo salah, lupa perbandingan antara Fahrenheit & celcius)
- Lack of sweating with dry red skin (kurang berkeringat, diikuti dengan kulit memerah dan kering)


ACTIONS
As Soon You Notice That Symptom of Hyperthermia
- Rest in cool shaded place/area with feet elevated (istirahatkan di tempat sejuk)
- Remove excess clothing (buka pakaiannya, untuk mengurangi panas)
- Splash skin with cool or tepid water, or apply cool towels or skin to skin and head (perciki kulit dengan air dingin, gunakan handuk basah untuk compress kulit dan terutama kepala)
- Move to an air conditioned setting (pindahkan ke ruangan ber-AC)
- Drink a lots of cool water, fruit juices or sports drink (berikan banyak minum juice, air dingin (tapi bukan air es), atau minuman isotonic/cairan infuse)
- Seek emergency medical treatment and advice (cari bantuan medis secepatnya)

Nah sekarang, mengapa kita harus hati2 terhadap HEAT STROKE??
Bagi rekan – rekan yang berada di kota – kota yang bersuhu udara panas, seperti Surabaya, sebagian Jakarta, Makassar, Balikpapan, dll, serangan Heat Stroke ini akan sangat mungkin terjadi. Apalagi bila kita sedang dalam keadaan puasa dan waktu sahur, konsumsi cairan kita pada waktu sahur kurang.

Dengan kondisi puasa ini, tubuh kita secara tidak langsung akan “diminta” untuk bekerja lebih keras dari biasanya, apalagi dengan dukungan cairan tubuh yang terbatas, maka penguapan dan paparan panas akan semakin terasa dan mengikis persediaan air dalam tubuh kita. Dengan semakin terkikisnya persediaan air dalam tubuh kita, maka sebagai bentuk pertahanan diri, maka tubuh kita pun akan ikut menjadi panas (ingat saat balita di imunisasi kan?). Nah ketika kenaikan suha panas tubuh kita itu berlangsung berulang kali, tanpa ada ganti cairan yang memadai maka saat itulah mulai terjadi Heat Stroke dalam kapasitas yang ringan. Apabila keadaan ini berulang kali kita abaikan, maka akan mungkin sekali bila level Heat Stroke menjadi tinggi.

Salah satu gejala awam yang muncul (seperti juga saya sebutkan diatas) adalah rasa haus dan gerah yang berlebihan, kepala pening, tenggorokan kering dan bila sudah parah bisa terjadi mimisan, kejang dan pingsan.

Alhamdulilah…2 hari ini saya mengalami sendiri Heat Stroke, dan alhamdulilah pulang sekarang sudah berkurang dan berangsur membaik. Saya hanya ingin mengingatkan kepada teman-teman untuk waspada, terutama buat teman-teman yang saat sahur maupun berbuka kurang mengkonsumsi air terutama air putih, supaya cairan dalam tubuh kita tetap seimbang sampai akhir ramadhan nanti amin.

Selamat berpuasa, dan semoga puasa kita menjadikan diri kita lebih baik dalam beribadah amin.

Salam Fantastic,
Fei Hestamma W.

Jumat, September 05, 2008

Kisah seekor Belalang

Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak.
Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya
tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati
kebebasannya.

Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain.
Namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat
lebih tinggi dan lebih jauh darinya.

Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya,
“Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh,
padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk
tubuh ?”.

Belalang itu pun menjawabnya dengan pertanyaan,
“Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang
yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang
aku lakukan”.

Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak
itulah yang membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi
belalang lain yang hidup di alam bebas.

Renungan :
Kadang-kadang kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah
juga mengalami hal yang sama dengan belalang.

Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan
yang beruntun, perkataan teman atau pendapat tetangga,
seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang
membatasi semua kelebihan kita. Lebih sering kita mempercayai
mentah-mentah apapun yang mereka voniskan kepada kita
tanpa pernah berpikir benarkah Anda separah itu?
Bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih mempercayai
mereka daripada mempercayai diri sendiri.

Tidakkah Anda pernah mempertanyakan kepada nurani bahwa
Anda bisa “melompat lebih tinggi dan lebih jauh” kalau Anda
mau menyingkirkan “kotak” itu?
Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapai
sesuatu yang selama ini Anda anggap diluar batas kemampuan
Anda?

Beruntung sebagai manusia kita dibekali Tuhan kemampuan
untuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apa
yang kita alami. Karena itu teman, teruslah berusaha mencapai
apapun yang Anda ingin capai. Sakit memang, lelah memang,
tapi bila Anda sudah sampai di puncak, semua pengorbanan
itu pasti akan terbayar.

Kehidupan Anda akan lebih baik kalau hidup dengan cara hidup
pilihan Anda. Bukan cara hidup seperti yang mereka pilihkan
untuk Anda.

Senin, September 01, 2008

MENSYUKURI NERAKA

by Gede Prama


Entah kapan dimulai, dan siapa yang memulainya tidaklah terlalu jelas. Yang jelas, ada banyak sekali manusia yang amat rindu akan surga dan amat takut sama neraka. Dari anak kecil sampai orang tua, dari orang desa sampai orang kota, kebanyakan rindu surga dan takut neraka.

Jujur harus diakui, sayapun pernah lama dilanda kerinduan dan ketakutan semacam itu. Cuman, setelah menelusuri lorong-lorong kehidupan dengan kedalaman kontemplasi tertentu, rupanya kita manusia sudah terlalu lama manja dengan buaian surga, dan dibuat takut oleh ancaman neraka. Untuk kemudian kehilangan dua kesempatan emas dalam hidup. Kesempatan emas pertama, manusia kehilangan kekuatan amat besar yang bernama keikhlasan. Kesempatan emas kedua, justru melalui tempaan-tempaan neraka yang ditakuti (baca : masalah) kemudian manusia jadi kuat dan hebat.

Konsepsi surga-neraka, sebagaimana kita tahu, memang memiliki banyak sekali manfaat. Cuman, sebagaimana wajah dualitas manapun, konsepsi surga-neraka membuat tidak sedikit manusia kemudian "berdagang" dengan kehidupan. Sebagai akibatnya, manusia kehilangan keikhlasan sebagai kekuatan kehidupan.

Ada cerita tentang sebuah desa yang tidak berhasil memotong pohon besar mengganggu. Karena berbagai peralatan tidak berhasil membuat pohon tumbang, dicurigai pohon ini ditunggui mahluk dengan kekuatan metafisik tertentu. Dicarilah orang "pintar" yang bisa membantu. Ternyata, ada orang berpenampilan sederhana yang bisa memotong pohon tadi dengan gergaji biasa. Orang terakhir hanya memotong pohon tadi dengan kalimat permulaan yang berbunyi : "dengan keikhlasan di depan Tuhan, tidak ada yang tidak bisa dilakukan".

Ternyata kinerja orang sederhana ini terdengar ke banyak tempat. Di samping karena kekaguman masyarakat, juga kerena hadiah besar yang telah diterimanya. Di desa seberang yang memiliki problema yang serupa kemudian memanggilnya. Dan setelah memotong pohon dengan teknik dan alat yang sama, ternyata berkali-kali hanya berujung kegagalan. Ada yang berubah, katanya setelah berulang kali gagal, hadiah rupanya melenyapkan keikhlasan!

Ini memang hanya sebuah cerita, namun layak direnungkan kalau keikhlasan bukanlah sumber kelemahan. Ia sejenis tenaga dalam yang bisa membuat manusia jadi demikian perkasa. Terinspirasi dari banyak cerita-cerita sufi, demikian juga dari puisi-puisi Gibran dan Rumi, serta kualitas pemimpin-pemimpin yang masih berkuasa ketika badannya sudah disebut meninggal oleh dokter, keikhlasan sudah menjadi tema kehidupan yang kuat sejak dulu.


Kesempatan emas kedua yang dibuat lenyap oleh konsepsi surga-neraka, adalah kekuatan-kekuatan yang bisa dihadirkan oleh keseharian yang penuh dengan "neraka". Masalah, godaan, tantangan, persoalan adalah rangkaian hal yang ditakuti banyak manusia sebagaimana mereka menakuti neraka. Semakin sedikit wajah neraka seperti ini yang hadir, semakin baik bagi para pengagum surga.

Ternyata kehidupan bertutur dan bercerita lain. Sebagaimana pernah dituturkan secara apik oleh M. Scott Peck dalam The Road Less Travelled, mereka-mereka yang menakuti neraka ternyata tumbuh jadi manusia lemah dan lembek. Sebagian bahkan terkena penyakit kejiwaan yang menyedihkan. Di bagian awal buku inspiratif ini Scott Peck menulis : ?This tendency to avoid problems and emotional suffering inherent in them is the primary basis of all human mental illness?. Kecenderungan untuk lari dari masalah dan penderitaan adalah fundamen utama dari kondisi mental yang tidak terlalu sehat.

Bercermin dari sini, neraka tidaklah seburuk bayangan banyak orang. Dalam lapisan-lapisan kejernihan yang lebih dalam, neraka adalah tempat pemurnian. Sebuah tempat di mana sampah-sampah kehidupan diolah menjadi pupuk-pupuk berguna. Sebutlah masalah keseharian seperti dimarahin atasan. Sesaat memang membuat yang bersangkutan kesal, tetapi kemarahan atasan sedang membuatnya jadi kuat. Atau memiliki isteri yang cerewetnya minta ampun, ia memang sengaja hadir untuk membuat sang suami jadi sabar. Demikian juga dengan masalah lain.

Yang jelas, lari dari persoalan memang enak sebentar, tetapi ia membawa dampak jangka panjang yang negatif. Meminjam argumen Scott Peck dalam karya di atas, kesukaan untuk lari dari masalah dan tanggung jawab adalah ciri utama dari manusia-manusia yang terkena penyakit character disorder. Lebih dari sekadar terkena penyakit kejiwaan tadi, tantangan dan masalah sebenarnya serupa dengan tangga-tangga kedewasaan dan kematangan. Semakin tinggi dan besar masalahnya, itu berarti kaki sang hidup sedang melangkah di tempat yang juga tinggi.

Surga (baca : kebahagiaan) memang udara kehidupan yang indah dan segar, tetapi ia terasa jauh lebih indah dan segar jika seseorang pernah melalui tangga-tangga neraka. Serupa dengan lingkaran Yin-Yang yang di belah dua, awalnya memang ada beda jelas dan tegas antara surga dan neraka. Surga itu berisi senyuman, neraka berisi tangisan. Namun, di tingkatan-tingkatan kejernihan, sekat dan pemisah tadi sudah tidak ada. Suka-duka, tangisan-senyuman, sukses-gagal hanyalah aliran kehidupan yang datang dengan peran masing-masing. Persis seperti siang yang berganti malam dan juga sebaliknya, setiap pergantian berjalan tenang dan tenteram. Dan jangan lupa, kualitas hidup di dalam diri seperti ini hanya bisa dicapai oleh manusia yang mendalami hakekat syukur akan adanya neraka.*****