Kamis, April 24, 2008

Dewi Saraswati

SARASWATI

Pernahkah Anda mendengar sebaris nama yang menjadi judul tulisan ini??




Dewi Saraswati dalam lukisan India
Gelar sebagai Dewi Pengetahuan
Ejaan Sanskerta: Sarasvatī
Golongan:
Dewi
Pasangan: Dewa
Brahma
Wahana:
Angsa




Saraswati atau dalam bahasa sansekerta sarasvati ini adalah seorang dewi yang menjadi pasangan dari dewa Brahma, Sang Dewa Pencipta. Dia adalah salah satu dari 3 Dewi selain Dewi Sri (Lakhsmi) dan Dewi Uma (Durga) yang diagungkan dan disembah oleh para penganut agama Hindu.




Saraswati adalah Dewi Ilmu Pengetahuan dan Seni, selain itu pula Saraswati juga dipuja sebagai Dewi Kebijaksanaan.




Karena ada pemujaan kepada Dewi satu ini, maka tentunya ada perayaan dan ritual yang selalu dilakukan. Berawal dari sebuah pertanyaan “mengapa orang bali mampu mempertahankan budaya yang dimilikinya hingga kini dan tiada tanda – tanda akan hilang seiring kemajuan jaman??”, “mengapa orang bali selalu mampu berinovasi dan berkreasi dengan terus menghasilkan karya seni bernilai tinggi??” dan masih banyak pertanyaan lain yang muncul ketika kita tahu banyak pula orang bali yang pandai dan berhasil dalam proses belajarnya.
Jawabannya adalah mereka punya Dewi Saraswati!!! Dewi ilmu pengetahuan dan seni yang selalu mereka puja, dengan harapan mereka mampu memperoleh tambahan ilmu dan sekaligus mampu mempertahankan ilmu yang mereka miliki.




Hari Saraswati, diperingati berdasarkan kalender jawa (sansekerta) yang jatuh setiap hari Saniscara (Sabtu), Umanis (Legi), wuku Watugunung. Sehingga berdasarkan hitungan bulan masehi, Hari Saraswati diperingati setiap 210 hari sebagai bentuk penghormatan kepada Ibu Ilmu Pengetahuan dan Seni.




Biasanya Hari Saraswati diperingati dengan ritual – ritual hindu yang diantaranya adalah membaca dan merenungkan pelajaran – pelajaran suci dari kitab – kitab lontar suci yang kemudian mereka maknai berdasarkan hasil belajar masing – masing. Selain itu, mereka para penyembah Dewi Saraswati, juga mengupayakan sebuah tindakan untuk menghargai dan menjunjung tinggi sang Dewi yaitu dengan merawat dan membersihkan setiap rak buku yang mereka temui terutama di rumah mereka, mereka juga membersihkan dan merapikan buku – buku yang mereka miliki dengan hati – hati supaya Sang Dewi tidak marah dan konsekuensi akhirnya adalah mencabut ilmu pengetahuan yang mereka miliki.




Orang bali atau orang hindu pada umumnya, mungkin jarang atau bahkan tidak ada yang meremehkan atau menyepelekan buku – buku ilmu pengetahuan yang mereka miliki, apapun topik atau tema buku itu! Bahkan mungkin hanya sekedar buku cerita pun mereka akan mencoba merawatnya, karena kita tidak akan pernah tahu makna dan nilai dari sebuah buku cerita, karena begitu banyak pelajaran yang bisa diambil dari sebuah cerita.




Di Negara kita tercinta ini, INDONESIA yang didalamnya terdapat Bali sebagai pusat tempat tinggal para penganut agama hindu, adalah sebuah bukti nyata tentang pelestarian ilmu pengetahuan. Lihatlah Bali secara keseluruhan, adakah sudut Bali yang tidak memiliki ciri khas budaya Bali itu sendiri?! Bisa dikatakan TIDAK ADA! Karena kemanapun kita pergi mengelilingi Bali, maka kita akan selalu menemui esensi budaya Bali yang luhur, yang konon merupakan perwujudan nyata dari budaya kerajaan majapahit jaman dahulu! Bahkan ketika kita diluar pulau bali sekalipun, apabila kita bertemu orang bali atau menemukan rumah orang bali, maka hal itu akan sangat mudah kita kenali. Mengapa? Karena orang bali dimanapun dan kemanapun akan selalu membawa dan mempertahankan budaya yang dimilikinya sebagai bentuk identitas dan kebanggaan akan budayanya. Bahkan identitas dan kebudayaan ini pun berlaku bagi anak – anak mereka dan akhirnya setiap tetes “darah” bali pun tetap mengalir dengan berjuta nilainya dalam setiap relung tubuh anak – anak bali dan bahkan terbawa sampai mereka dewasa. LUAR BIASA!




Coba bandingkan dengan secara umum penduduk Negara kita ini, pernahkah anda menemukan seseorang yang begitu peduli akan buku? Sumber ilmu pengetahuan itu? Pasti pernah bukan… tetapi coba bandingkan dengan yang tidak peduli, kira – kira berapakah perbandingannya?? Jauh sekali bukan?!. Biarpun orang yang sangat menyenangi baca buku, berapa banyak orang yang bisa memelihara dan menjaga buku yang dimilikinya?? Tidak banyak juga bukan?!. Sekarang coba kita keluar dari negeri ini sejenak, dan mencoba untuk menengok ke Negara – Negara eropa, amerika, rusia bahkan sebagian dari asia sendiri. Bayangkan berapa banyak perpustakaan yang memiliki koleksi buku – buku kuno yang tak ternilai, mungkin sejak jaman fir’aun, jaman Socrates, Archimedes, jaman rainessance, atau jaman perang salib, jaman tokugawa, dinasti ming, dinasti chin, dan lain – lain. Anda akan menemukan banyak sekali perpustakaan di Negara – Negara sama yang memiliki koleksi – koleksi buku tua yang keadaannya masih baik dan masih dapat terbaca. Sekarang bandingkan dengan perpustakaan dinegara kita ini, kira – kira berapa banyak perpustakaan yang memiliki koleksi buku – buku tua berharga?! Selain di museum tentunya. Karena di Negara kita ini, untuk mencari barang tua, kuno, dan antik, tempat yang paling tepat adalah museum dan tak jarang kondisi pustaka koleksinya sudah hamper rusak sehingga akan hancur bila harus dipegang dengan gerakan sehalus gerakan bayi sekalipun. Luar Biasa juga kan!




Sekarang kembali akan coba persempit, Karena saya sebaai seorang muslim maka akhirnya saya ingin membandingkan dengan para kaum muslim dinegara kita ini. Coba bandingkan dengan kita para umat muslim, adakah diantara kita yang menghargai buku sebagai sesuatu yang berharga?? Atau bahkan menganggapnya sebagai bagian harta kekayaan yang kita miliki?? Ada tetapi tidak banyak, bahkan mungkin bisa dihitung dengan jari.




Pertanyaan selanjutnya adalah pernahkan kita mendapati sebuah mushola atau masjid yang memiliki koleksi Kitab Suci Al-Qur’an dalam keadaan masih bagus?? Hampir tidak pernah dan kebanyakan kitab suci yang menjadi pedoman hidup para kaum muslim itu selalu dalam keadaan yang mengenaskan, kalau tidak kumal atau lecek, seringkali sampul depan dan belakangnya hilang atau kalau tidak, kitab suci tersebut sudah terurai dari ikatan simpulnya. Mungkin banyak orang akan beralasan “wajar kan…orang kitab itu dibaca dan dipake orang banyak, bagaimana tidak menjadi rusak” atau ekstrimnya “kalo pengen tetep bagus yaaa taruh aja di lemari dan jadikan pajangan saja!”.




MasyaAllah…luar biasa jawaban yang diberikan, namun bukan itu inti pembicaraan kita tetapi apakah banyak kaum muslim yang bisanya hanya membaca buku saja tanpa mau merawatnya bahkan itu Al-Qur’an sekalipun?! Astagfirullah…semoga Allah selalu membukakan hati kita kepada kebaikan amin.




Ada sebuah cerita, saya mengutip dari komik kungfu boy edisi pertama, buku ke 18. Alkisah ada seorang anak muda yang sedang belajar ilmu beladiri di kuil Dairin yang tempatnya di suatu desa kecil di daerah China. Nama anak itu Chinmi, dia diminta gurunya untuk mengasah dan menambah ilmu yang dimilikinya dengan mengembara atau bertualang. Pada akhirnya dia tiba di sebuah desa yang sejuk tetapi sepi, di desa itu dia menemukan ilmu baru dan kebetulan dia telah mengetahui nama besar sang Suhu. Pada akhirnya dia menemukan Sang guru yang ternyata adalah seorang dokter atau tabib yang bernama Lo, dokter Lo begitu dia biasa dipanggil oleh penduduk desa itu. Pada suatu ketika Chinmi diajak untuk bertamu ke rumah dokter lo, dan betapa terkejutnya chinmi dengan koleksi buku dokter Lo yang hampir memenuhi setiap sisi rumahnya dan dokter Lo hanya mengatakan “Buku – buku ini adalah harta bagiku”. Sederhana tetapi betapa dalam jawaban dari dokter Lo, begitu pentingnya buku baginya seolah itulah harta kekayaannya yang paling berharga dibandingkan hartanya yang lain. Nah bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menjadikan buku salah sau benda berharga didalam rumah kita??




Tiada kata terlambat untuk memulai sesuatu kebiasaan baru yang baik, yang ada hanyalah penyesalan apabila kita pada akhirnya memang sudah terlambat. Selagi masih ada yang mengingatkan, mengapa kita tidak mulai sekarang saja! Karena buku itu adalah harta yang tak ternilai dan maknanya tak akan lekang oleh waktu.




Bukankah buku berisi ilmu, dan berbagi ilmu adalah bentuk terbaik dari shodaqoh yang pahalanya akan tetap mengalir dan diperhitungkan walaupun kita telah tiada! Buku itu sama dengan bumi, yang tak hanya untuk kita tetapi juga akn diwariskan kepada anak cucu kita kelak. Mulai saat ini sayangi buku, karena Buku Untuk Generasi Kita!.

Salam Pembelajar Luar Biasa!!!
Fei Hestamma W. – Learning Partner & Counsellor
ENTITY enlightment