Jumat, Agustus 01, 2008

Untukmu para Al-Faqir


Wahai Al-Faqir…Tengoklah diri kita…

Sesungguhnya menuntun setiap mukmin untuk menyadari bahwa tak soal siapa, apa dan bagaimana kita dimasa lalu, yang terpenting adalah bagaimana kita membentuk hari ini untuk mencapai hari esok yang lebih baik dan menuntaskan hidup ini dalam kondisi yang paling baik.

Maka Allah menegaskan betapa beruntungnya mereka yang memilih jalan kebaikan dan mensucikan dirinya. Sebaliknya betapa meruginya mereka yang memilih jalan keburukan dan mengotori dirinya.

Ingatlah! Sekali anda sombong maka berarti anda telah merendahkan diri anda sendiri, sekali anda angkuh maka anda telah menghina diri anda sendiri.

Karena dengan sombong dan angkuh walaupun itu hanya sekali, anda akan tercela dan merendahkan martabat anda di mata orang dan membuat mereka selalu berpikiran negatif terhadap anda.

Ketika Allah Azza Wa Jalla menginginkan hamba-Nya menjadi sosok yang lebih baik, maka Allah Azza Wa Jalla tak akan berhenti mengujinya hingga hamba al-faqir itu menjadi tangguh dan lebih baik lagi.

Wahai Nafsul Muthmainah…

Wahai Jiwa –jiwa yang Tenang....

Lembutkan hatimu…

Lembutkan hatimu…

Lembutkan hatimu....

Lembutkan ucapanmu...

Be Istiqomah, Sabar, dan Ikhlash wahai Al-Faqir.....


Rajawali, 23 Maret 2007

Fei “Al-Faqir”

1 Tahun

1 Tahun itu…

Usiaku berkurang lagi 1 tahun...

Namun hidupku di dunia juga bertambah 1 tahun.

Entah apa yang telah terjadi dalam masa itu

Karena masa 1 tahun, tidaklah panjang dan tidak pula pendek

1 tahun itu penuh makna

Bila telah lewat, tak ada yang perlu disesali

1 tahun itu penuh dengan perubahan

Tinggal bagaimana kamu mengarahkan perubahannya...

Mau menjadi baik atau buruk, hanya engkau yang menentukan

Kata orang... “The Choice is Yours”

Pilihan ada di Tanganmu kawan...

Betapa berharganya waktu 1 tahun...

Demi masa...sesungguhnya manusia kerugian

Melainkan bagi orang – orang yang beramal sholih

Untuk itu manfaatkan dengan baik masa 1 tahun mu...

Karena tidak semua orang memperoleh kesempatan

untuk mendapatkan 1 tahunnya kembali

be wise & be a light...

Anne Klein II @ 02.20

13 Februari 2007

Fei Hestamma W

ANAK KERANG


Anak Kerang

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengaduh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.

"Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita bangsa kerang sebuah tangan pun, sehingga Ibu takbisa menolongmu. Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam."

"Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya.

Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar.

Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna.

Penderitaannya berubah menjadi mutiara, air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

Cerita di atas adalah sebuah paradigma yang menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa". Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa".

Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki, menjadi `kerang biasa' yang disantap orang, atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara'.

Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja'.

So..sahabat mungkin saat ini kamu sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka karena orang-orang disekitar kamu..

Cobalah untuk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong
tersebut, dan sambil katakan didalam hatimu.. "Air mataku Diperhitungkan Tuhan.."

dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara-mutiara..."