Jumat, April 11, 2008

When Natures Call…

Ketika alam memanggil kembali…

Sebuah kebiasaan indah yang dulu selalu dilakukan dengan semangat dan gembira, sebuah kebiasaan untuk menikmati keindahan alam ciptaan Allah SWT dengan menapaki satu per satu, langkah demi langkah dan jengkal demi jengkal bumi sumber penghidupan dan perlindungan dari semua makhluk.

Keindahan yang tiada akan habis untuk disyukuri dan dirayakan dengan caranya masing – masing.

Sudah lama langkah – langkah ini tidak menapaki kembali lereng – lereng keindahan gunung perkasa yang katanya menjadi tiang penyangga bumi ini. Sejak melangkah ke tahap kehidupan baru, ada beberapa hal yang sedikit tertinggal dibelakang sana untuk sementara.
Tadi pagi, ketika aku berjalan menuju sebuah lokasi di Tretes Pasuruan, pada saat berjalan diantara villa – villa dan rumah – rumah yang ada dalam perjalananku tanpa sengaja aku mengdongakkan kepala untuk melihat dan mengamati suasana alam yang indah dan hijau. Saat itu lah…didepan mataku terpampang sebuah pemandangan agung maha luas, sebuah sosok besar berdiri tegak dengan berselimutkan pohon – pohon hijau dari lembah hingga lerengnya. Seiring dengan kabut yang merayap turun dari puncaknya, seperti kapas lembut yang perlahan – lahan merayap turun sambil member belaian lembut pada setiap pucuk – pucuk tunas pohon yang hari itu menyapa pagi.

Kapas putih itu perlahan turun meluncur ke arahku, seolah dia hendak menyambut sahabat lama yang lama tak menengok keberadaan dirinya. “Hai Sahabatku….apa kabar?? Kemarilah… ayo kemarilah… sudah lama kita tidak bertemu dan bercengkerama, berbagi keceriaan dan makna dalam balutan sejuknya udara gunung ini”, “masih ingatkah engkau akan bau segarnya pinus – pinus dilereng ini?! Ayo kemarilah…” sambil melambai – lambai kapas itu seolah memanggilku untuk naik dan menuju ke arahnya seolah dia mengerti bahwa sahabat lamanya sangat rindu dengan desau semilir lembut canda rianya.

Sang Tegak Kokoh pun dengan suara beratnya menimpali “Halo Sobat! Kemarilah…akupun rindu kepadamu” begitu kata Welirang menimpali. Arjuno juga tak kalah serunya, “Ayo…kesini, masih ingat titik ini? Dilereng ini kan ada pet bocor, ini pos 2, dst. Begitulah dia menyeru kepadaku sambil menunjuk satu persatu titik – titik terindah di lerengnya seolah dia mengingatkanku pada perjalanan lalu.

Aku pun hanya bisa menarik nafas dalam – dalam dan dengan segala kekuatan yang kumiliki, aku mencoba untuk menekan perasaan yang seolah meloncat kegirangan, berdegup dan berdesir indah seperti orang yang telah lama tidak berjumpa kekasih hati tercinta.

Seulas senyum pun ku sampaika kepada para sahabatku yang anggun dan gagah itu, sambil tetap menatap keindahan mereka aku pun berkata “kalian begitu indah sahabatku, indah tak ternilai…”. “terima kasih sahabat…, hatiku tidak bisa membohongi bahwa kami ingin berjumpa dan bermain denganmu, undangan special ini telah lama kutunggu, tetapi maaf kawanku…tidak untuk hari ini ya…”. “tidak perlu kuatir, karena kalian selalu ada dihatiku. Ada sebuah saat yang paling penting yang telah kurencanakan untuk berjumpa dan bermain kembali bersama kalian tetapi bukan saat ini, bukan sekarang…maaf ya” kulempar senyuman termanisku untuk mereka, para sahabat lama yang masih mempertontonkan keindahan dipelupuk mataku.
“kawanku…tunggulah, nanti akan kupenuhi undangan ini. Aku akan datang tapi tidak sendiri, aku akan datang dengan generasi baru, anak - anakku dan tentu keluarga kecilku”. “Akan kukenalkan engkau kepada mereka, supaya mereka tahu sahabat – sahabat sejati ayahnya, supaya mereka tahu betapa besar dan agung alam ciptaan Sang Pencipta yang juga menciptakan diri mereka”.

“Tunggu ya Sahabat – sahabatku, aku akan datang tapi tidak sendiri. Aku akan datang dengan keluargaku, anak istriku tercinta”, “sekali lagi terima kasih untuk undangan terindah untukku ini sahabat, akupun juga mohon maaf karena sekarang aku belum bisa memenuhinya”.

Hotel tanjung Tretes, April 10, 2008
Fei Hestamma W. – Learning Partner & Counsellor
ENTITY Enlightment