Kamis, Desember 27, 2007

5 rules in Life

Remember The Five simple Rules to be Happy

1. Free your heart from hearted
2. Free your mind from worries
3. Live simply
4. Give more

5. Demand less, expect miracles in life

No one can go back and make a brand new start
Anyone can start from now and make a brand new ending..

God didn't promise days without pain, laughter without sorrow, sun without rain, but He did promise strength for the day, comfort for the tears and light for the way.

Disappointments are like road bumps, they slow you down a bit but you will enjoy the smooth road afterwards.
Don't stay on the bumps too long.
Move on!

When you feel down because you didn't get what you want, just sit tight and be happy, because God has thought of something better to give you..

When something happens to you, good or bad, consider what it means.
There's a purpose to life's events, to teach you how to laugh more or not to cry too hard.

You can't make someone love you.
All you can do is be someone who can be loved;
the rest is up to the person to realize your worth.

It's better to lose your pride to the one you love, than to lose the one you love because of pride.

We spend too much time looking for the right person to love or finding fault with those we already love, when instead we should be perfecting the love we give.

Never abandon an old friend.
You will never find one who can take his place.
Friendship is like wine, it gets better as it grows older.
Pass it on to your dear friends.
I just did.


Have a nice day . . . . . .

Selasa, Desember 11, 2007

Bayi itu sudah bisa meniru, bahkan sejak hari pertama


Posted on by nilna iqbal , courtesy of Pustaka Nilna

Jika anda julurkan lidah ke arah bayi, bayi itu akan menjulurkan pula lidahnya kepada Anda. Bukalah mulut Anda, dan bayi pun akan membuka mulutnya.

Sekilas kemampuan bayi seperti ini tampak biasa-biasa saja. Akan tetapi jika kita pikirkan sejenak, sebenarnya kemampuan ini sungguh menakjubkan.

Bukankah dalam rahim sama sekali tidak ada cermin? Jadi bayi belum pernah melihat wajahnya sendiri. Tapi bagaimana ia tahu, dimana lidahnya berada? Coba buktikan sendiri. Julurkan lidah Anda (jangan lupa lihat-lihat dulu sekeliling ya :).

Cara untuk mengetahui bahwa Anda berhasil melakukannya ialah melalui kinestesia, yaitu suatu perasaan internal yang mendeteksi tubuh kita sendiri. Dan subhanallah, sungguh menarik sekali, setiap bayi mampu melakukan hal itu! Sekalipun ia belum pernah melihat bentuk wajahnya!

Karena itu pastilah bayi sudah memahami kesamaan antara perasaan internalnya dengan wajah eksternal yang ia lihat (yakni wajah Anda yang menjulurkan lidah padanya), yakni sebuah bentuk melingkar yang dari dalamnya keluar benda berwarna merah jambu panjang dan bergerak maju mundur. Bayi tidak hanya mampu melihat, namun ia juga mengenali bahwa wajah yang ia lihat mirip dengan wajahnya sendiri.

Kesalahan Yang Telah Berusia Lama

Selama bertahun-tahun “para ahli” berkeyakinan bahwa pikiran bayi kalah canggih dengan pikiran siput. Ketika lahir, bayi dianggap belum bisa melihat apa-apa. Mereka dimaklumi sebagai benar-benar “makhluk primitif” yang belum tahu apa-apa, tak bisa berbuat apa-apa. Secara harfiah, ia sama sekali “bukan apa-apa”.

Filosof abad ke-17 yang sangat termasyhur, John Locke, membuat sebuah metafora yang sampai hari ini masih ada dalam teks-teks referensi di sekolah-sekolah kita, bahwa setiap bayi adalah sebuah lembaran kosong. Terkenal sekali dengan ungkapan “tabula rasa”.

Pandangan ini sampai sekarang masih tetap hidup kuat dalam pemahaman kebanyakan orang tua. Maka banyak orang tua yang mengabaikan apa yang dipikirkan bayi dan anak-anaknya ketika mereka berperilaku. Bahkan tanpa sadar beberapa orang tua berani melakukan hubungan suami istri ketika berada di dekat bayinya. Mereka menganggap bayinya kan “tak tahu apa-apa”. Yang lebih banyak lagi bisa kita saksikan - mungkin juga di rumah-rumah kita sendiri- betapa banyak orang dewasa menonton televisi sambil menggendong bayinya. Padahal yang dilihat dan didengar itu adalah tentang kata-kata yang kasar, adegan-adegan kekerasan, atau lelucon maksiat yang murahan. Jangan-jangan ada pula yang nonton video porno sambil menyusui anaknya!

Riset psikologi perkembangan yang baru membuktikan bahwa pandangan bayi itu “tak tahu apa-apa” … sama sekali salah. Andrew Meltzoff, Ph.D, seorang professor psikologi di Universitas Washington, membuat penemuan yang mengagetkan sejak dua puluh tahun lalu. Ia membuktikan bahwa bayi mampu menirukan gerak manusia, bahkan sejak hari pertama!

Awalnya ia melakukan percobaan terhadap bayi usia 3 minggu. Agar dia yakin sekali bahwa bayi benar-benar melakukan peniruan, bukan “salah perkiraan” karena memang sulit membedakan ekspresi wajah bayi yang terus menerus berubah, Andrew merekam wajah-wajah bayi itu dalam videotape. Lalu dia menunjukkan rekaman-rekaman wajah bayi kepada orang lain, seseorang yang netral dan obyektif yang sama sekali tidak mengetahui apa yang telah dilihat oleh bayi ketika mereka memunculkan berbagai ekspresi wajah.

Professor Andrew berhasil membuktikan bahwa ada hubungan sistematis antara apa yang dilakukan bayi (yang dinilai oleh pengamat yang netral) dengan apa yang dilihat oleh si bayi (sehingga ia berekspresi tertentu).

Lebih jauh lagi, ia menunjukkan bahwa kemampuan meniru ini benar-benar adalah bawaan sejak lahir. Maka ia menyiapkan sebuah laboratorium di sebelah ruang pekerja di rumah sakit setempat dan meminta orangtua bayi agar memanggil dirinya jika si bayi hampir lahir. Selama setahun, dia terbangun pada tengah malam atau tergopoh-gopoh keluar dari sebuah rapat, terburu-buru lari ke rumah sakit, untuk mengetahui hasil lebih lanjut. Akhirnya ia berhasil menguji banyak bayi sebelum mereka berumur satu hari. Bayi termuda yang ia uji berusia hanya 42 menit. Bayi-bayi tersebut terbukti meniru gerak manusia!

“Bayi dan anak-anak adalah seorang saintis,” tulis tiga orang professor psikologi terkenal, Alison Gopnik, Andrew N. Meltzoff dan Patricia K. Kuhl, dalam karya ilmiahnya, “The Scientist in the Crib: What Early Learning Tells Us About The Mind” (sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Kaifa berjudul Keajaiban Otak Anak).

Laksana seorang ilmuwan hebat, setiap bayi menyelidiki sifat benda-benda disekitarnya. Mereka berpikir, mengobservasi, dan bernalar. Ibarat psikolog mereka juga berusaha membaca pikiran orang-orang yang dijumpainya. Dia membuat perkiraan, mengujicobanya, mempertimbangkan bukti, lalu menarik kesimpulan, melakukan eksperimen lagi, memecahkan masalah, mengoreksi bila ternyata kesimpulan itu salah dan terus mencari kebenaran. Hanya saja memang, mereka tidak melakukan semua ini dengan cara yang sadar-diri sebagaimana para ilmuwan melakukannya. Mereka adalah saintis dalam tubuh kanak-kanak!

Karena itu marilah kita berhati-hati ketika kita berada di dekat bayi dan anak-anak kita. Tak terkecuali ketika menggendong bayi kita yang masih berumur beberapa hari. Mereka belajar dari apapun yang kita ucapkan, yang kita lakukan. Semoga …

Rabu, November 21, 2007

Sego Kucing van Jogjakarta

Sebuah catatan di Yogyakarta, 19 Nopember 2007

Bagi orang Jogjakarta, sego kucing merupakan salah satu ciri khas yang mereka miliki, mungkin bisa dianggap sebagai sebuah icon bagi kota Jogjakarta itu sendiri, yang sebelumnya sudah terkenal dengan sebutan kota pelajar dan kota pariwisata.

Kalau tidak salah, makanan sederhana ini sebenarnya sudah ada sejak lama, namun namanya mulai terkenal ketika banyak para pendatang, terutama yang memiliki uang pas-pasan mencari makanan yang sesuai kantong mereka. Maklum salah satu cara berhemat bagi para backpackers adalah dengan mencari makanan murah sehingga bisa menghemat pengeluaran.

Sego kucing… atau nasi makanan kucing… karena memang porsinya sama besar dengan makanan yang diberikan kepada kucing – kucing peliharaan di Jogja, maka dinamakanlah nasi bungkus sederhana ini dengan sego kucing, sego dalam bahasa jawa berarti nasi. Lagi – lagi kalau melihat sebutannya dan tentu menilik undang – undang HAKI (wah jadi sok jadi orang hukum nih…), seharusnya para kucing di Jogjakarta bisa gemuk – gemuk dan tentu makmur hidupnya, wong mereka mendapatkan royalty alias hak paten karena merk dagang makanan ini pake nama mereka…ya Kucing itu tho! Wah memang ya…saking kreatifnya manusia, kucing – kucing jadinya ndak kebagian makanannya sendiri…ya sego kucing itu…makanya masih banyak kucing – kucing di kota ini yang kurus kering dan harus cari makan dipinggir jalan karena makanannya dijual sebagai daya tarik wisata kota. Weleh…weleh…weleh…apa tho ya maksudnya?? Tapi terlantarnya kucing yang mencari makan di jalanan kota ini pun tidak jauh beda dengan terlantarnya nasib sang empu pemelihara kucing, yang juga masih banyak yang bertarung untuk mencari makan di jalanan. Ada kalanya bahkan si empu kucing ini bersaing dengan para kucing kesayangannya untuk mencari makan bahkan mereka harus rela berbagi tempat berteduh seadanya dengan kucing – kucing di kota ini.

Kembali ke sego kucing, sego atau nasi yang dibungkus kecil – kecil yang besarnya sama dengan segenggaman telapak tangan orang dewasa ini, sekarang menjadi salah satu menu buruan bagi para pelancong yang datang ke Jogjakarta, entah itu karena rasa ingin tahu atau bahkan karena sudah jatuh cinta dengan kekhasan sego kucing itu sendiri.

Sego kucing dikemas dalam bungkusan daun pisang dan koran ini memang khas, apalagi kalau dilihat lauknya yang benar-benar sederhana seperti ikan asin, sambel, urap, krengsengan, bothok tempe, dan lainnya. Tapi jangan dibayangkan kalau semua lauk yang telah disebutkan tadi, semua sudah termasuk dalam satu bungkusan beserta nasinya. Melainkan setiap bungkus sego kucing itu hanya ada satu jenis lauk tadi. Nah loh…gimana kalo dapat sambel doank!? Tenang…semua ada solusinya (kata iklan sih…), disetiap warung sego kucing sudah disediakan lauk pauk tambahan yang siap gigit dan tentu disantap. Lauk pauk itu pun beraneka ragam mulai dari tahu goreng, tempe goreng, bakwan, ceker ayam, ikan asin, ikan teri, ayam rica-rica, bothok, oseng – oseng dan masih banyak lagi macemnya dan tentunya menyesuaikan kemasan sang sego kucing itu sendiri, kalaupun ada yang dibungkus, bungkusnya pun kecil – kecil alias secukupnya. Kalau tidak cukup?? Yang namanya secukupnya, misal satu bungkus tidak cukup yang silahkan ambil lagi sesuai selera anda yang secukupnya hehehe…

Kemarin ketika kembali menikmati nasi khas Jogja ini, saya menemukan sebuah sensasi baru. Setiap bungkus memberikan kejutan bagi para penikmatnya, apalagi kalo anda tidak bertanya kepada sang penjualnya...SERU! curiousity anda dipicu untuk selalu aktif bertanya – tanya ”kira – kira bungkusan ini isinya apa ya??”. hal ini mengingatkan saya ada kue pretzel atau kue keberuntungan di dunia barat sana.

Pertama kali saya mengambil dapat nasi dengan oseng – oseng, kemudian karena merasa kurang pas saya nambah lauk ayam rica – rica dan lagi – lagi, entah kebetulan atau karena Tuhan tahu saya suka nyisip tulang, ayam rica – rica itu banyak banget tulangnya...akhirnya menambah seru dan nikmatnya ”penghabisan” bungkus pertama nasi kucing. Kemudian karena saya merasa masih perlu mengisi perut sebagai ganti makan malam, maka saya pun mengambil bungkusan sego kucing yang kedua. Alamakjaaaarrrrr!!!!........saya dapat bungkusan nasi plus sambel doank! Mau tak mau akhirnya saya ambil tahu goreng sebagai pelengkap, itung – itung mengingat tahu penyet kota asal Surabaya, walaupun sambelnya berbeda.

Selanjutnya ada teman setia tatkala kita menikmati sego kucing, makan tanpa diikuti minuman tentu belum lengkap bukan?? Nah sebagai teman makan sego ini, orang Jogja selalu menyertainya dengan menyeruput minuman Nasgitel, singkatan dari panas, legi, kentel atau panas, manis dan kental. Macemnya?? Tentu banyak macamnya, ada kopi, teh, jeruk, jahe dan yang jelas semuanya panas, manis dan kental dan tentu disesuaikan dengan selera kecukupannya masing – masing penikmatnya. sekarang lengkap sudah sego kucing lengkap dengan lauknya dan tentu nasgitel, hmm.....kalo gitu silahkan menikmati! Nyaamm....

Wah benar – benar surprise yang tak terduga dari sebuah makanan sederhana yang namanya sego kucing ini, dan ternyata hanya dengan sego kucing kita bisa memperoleh banyak pelajaran...VIVA Sego kucing! Bayangkan saja kita belajar tentang kehidupan yaitu tentang ”apa yang kita harapkan belum tentu bisa terwujud sesuai dengan keinginan kita”, walaupun saya belajar NLP dan Law of Attraction, satu – satunya attraction yang saya pakai tadi malam adalah curiousity, karena memang saya pengen tahu gimana menikmati kejutan dari tiap bungkusan sego kucing itu. Kita juga belajar tentang mind yaitu gimana kita bisa tetap hidup dan tetap berpikir sebagai energi untuk tetap menjadi seorang manusia, untuk tetap ”hidup” kita harus memicu dan memacu curiousity kita sehingga kita tetap bergairah untuk berpikir dan mengaktifkan saraf – saraf pada Grey matters area yang kita miliki. Kemudian ada lagi, kita bisa belajar marketing. Kalau seorang penjual nasi kucing tahu tentang The Luck Factor , bayangkan bahwa nilai itu bisa menjadi nilai jual yang tinggi bila dikelola dengan baik. Bila setiap bungkus sego kucing bisa memberikan sensasi keterkejutan para penikmatnya dengan isinya yang ”itu doank”, bagaimana bila itu digabungkan dengan The Luck Factor , mungkin ditambah dengan kata motivasi atau quotes tentu efeknya akan lebih mengesankan dan luar biasa. Selain itu nilai marketing kedua, yang bisa kita peroleh adalah ”give the customer the unexpected” dan mungkin “expect the unexpected”, yaitu kita berikan kejutan yang tidak pernah diharapkan oleh konsumen, sebuah nilai plus yang mengejutkan atau berikan pelayanan yang tidak pernah dibayangkan oleh para pelanggan kita.

Yogyakarta, 19 Nopember 2007

Salam Inspirasi Luar Biasa Prima Sekaleee!!!

Fei Hestamma W.

Senin, November 12, 2007

Pengemis dan Nasi Bungkus

Pengemis dan Nasi Bungkus



Ada sebuah kisah menarik tentang tiga orang pengemis yang sedang tiduran di emperan sebuah toko. Karena hari begitu malam dan disertai hujan yang sangat lebat. Membuat mata mereka begitu mengantuk. Akhirnyamereka tertidur lelap.



Esok hari ketika mereka bangun. Mereka dikejutkan karena disamping mereka sudah ada tiga bungkus nasi yang masih hangat. Entah siapa yang meletakkan nasi tersebut. Yang penting bagi mereka itu adalah karunia dari tuhan.



Pengemis pertama merasa senang luar biasa. Dan tanpa basa basi. Dia langsung menyantap hidangan pagi itu. Ketika perut sudah kenyang. Dia pun kembali lagi tidur.



Pengemis kedua merasa senang juga. Tapi dia terus bertanya dalam hati siapakah yang bermurah hati mau memberi mereka rejeki dipagi hari ini. Dia pun melihati nasi tersebut. Isinya pun sederhana sekali. Hanya satu butir telur dan sedikit sayuran. Dan dia bertanya dalam hati, kok bukan ayam. Memberikan rejeki kok tanggung-tanggung. Sambil terus bertanya dia pun menghabiskan nasi tersebut.



Lain halnya dengan pengemis ketiga. Dia memang senang tapi ditahannya terlebih dahulu. Sambil mengambil posisi berdoa, dia pun mengucap syukur kepada Tuhan. Karena sudah diberi sebuah karunia di pagi hari ini. Dan dia mendoakan semoga yang memberikan nasi ini diberikan rejeki yang berlebih. Terakhir barulah dia makan nasi tersebut dengan lahap.



Bila anda disuruh memilih, dari ketiga pengemis tersebut mana yang paling anda sukain? Pasti jawaban anda adalah pengemis ketiga.



Cerita diatas mengajarkan kita bagaimana kita perlu bersyukur pada saat menerima pemberian orang. Saat si pengemis ketiga, menerima bahwa nasi tersebut adalah rejeki bagi dia. Maka hal yang pertama dia lakukan adalah BERSYUKUR.........Lalu dia pun berdoa. Semoga yang memberikan rejeki bagi dia, dilipatgandakan rejekinya. Dan terakhir baru dia bisa menikmati rejekinya.

Menurut orang bijak, yang membuat kita banyak tenggelam dalam derita adalah, kurang terampilnya kita mensyukuri nikmat. Langkah bersyukur ini menjadi kunci pokok, bila kita mau mengaktifkan attractor faktor kita. Marilah kita nikmati karunia Tuhan dengan penuh kesyukuran. Selain akan menjadi amal, karunia tersebut akan mewarnai hidup kita dengan penuh kenikmatan dan kesyukuran. Setiap susah senang yang kita dapati, harus membuat kita lebih fokus lagi kepada Tuhan, bukan malah menjauhinya.





Thanks to :

Daniel Kurniawan

[Mind Educator]

www.rumahmotivasi.com

Senin, November 05, 2007

Goo Outdoor

Goo Outdoor
Goo Outdoor,
originally uploaded by Fei's Image Bundle.
Mencari ilmu untuk mengembangkan diri di lereng gunung gede pangrango, di sebuah lereng bernama situ gunung bagian dari cisaat sukabumi. menempa, menjelajah, dan belajar memaknai semua alur kehidupan demi mencari dan menggapai hal terbaik dalam diri, sebagai bekal untuk dapat berbagi bagi sesama dan alam disekitarku

Rabu, Oktober 10, 2007

BUNGA CANTIK DALAM POT YANG RETAK


Written by Jack Wednesday, 13 April 2005

Rumah kami langsung berseberangan dengan pintu masuk RS John Hopkins di Baltimore.

Kami tinggal dilantai dasar dan menyewakan kamar-kamar lantai atas pada para pasien yang ke klinik itu.

Suatu petang dimusim panas, ketika aku sedang menyiapkan makan malam, ada orang mengetuk pintu. Saat kubuka, yang kutatap ialah seorang pria dengan wajah yang benar buruk sekali rupanya.

"Lho, dia ini juga hampir Cuma setinggi anakku yang berusia 8 tahun" pikirku ketika aku mengamati tubuh yang bungkuk dan sudah serba keriput ini. Tapi yang mengerikan ialah wajahnya, begitu miring besar sebelah akibat bengkak, merah dan seperti daging mentah., hiiiihh...! Tapi suaranya begitu lembut menyenangkan ketika ia berkata,

"Selamat malam. Saya ini kemari untuk melihat apakah anda punya kamar hanya buat semalam saja. Saya datang berobat dan tiba dari pantai Timur, dan ternyata tidak ada bis lagi sampai esok pagi." Ia bilang sudah mencoba mencari kamar sejak tadi siang tanpa hasil, tidak ada seorangpun tampaknya yang punya kamar. "Aku rasa mungkin karena wajahku .. Saya tahu kelihatannya memang mengerikan, tapi dokterku bilang dengan beberapa kali pengobatan lagi..."

Untuk sesaat aku mulai ragu2, tapi kemudian kata2 selanjutnya menenteramkan dan meyakinkanku: "Oh aku bisa kok tidur dikursi goyang diluar sini, di veranda samping ini. Toh bis ku esok pagi2 juga sudah berangkat."Aku katakan kepadanya bahwa kami akan mencarikan ranjang buat dia, untuk beristirahat di beranda. Aku masuk kedalam menyelesaikan makan malam. Setelah rampung, aku mengundang pria tua itu, kalau2 ia mau ikut makan. "Wah, terima kasih, tapi saya sudah bawa cukup banyak makanan." Dan ia menunjukkan sebuah kantung kertas coklat. Selesai dengan mencuci piring2, aku keluar mengobrol dengannya beberapa menit. Tak butuh waktu lama untuk melihat bahwa orang tua ini memiliki sebuah hati yang terlampau besar untuk dijejalkan ketubuhnya yang kecil ini. Dia bercerita ia menangkap ikan untuk menunjang putrinya, kelima anak2nya, dan istrinya, yang tanpa daya telah lumpuh selamanya akibat luka di tulang punggung. Ia bercerita itu bukan dengan berkeluh kesah dan mengadu; malah sesungguhnya, setiap kalimat selalu didahului dengan ucapan syukur pada Allah untuk suatu berkat! Ia berterima kasih bahwa tidak ada rasa sakit yang menyertai penyakitnya, yang rupa2nya adalah semacam kanker kulit. Ia bersyukur pada Allah yang memberinya kekuatan untuk bisa terus maju dan bertahan. Saatnya tidur, kami bukakan ranjang lipat kain berkemah untuknya dikamar anak2.

Esoknya waktu aku bangun, seprei dan selimut sudah rapi terlipat dan pria tua itu sudah berada di veranda. Ia menolak makan pagi, tapi sesaat sebelum ia berangkat naik bis, ia berhenti sebentar, seakan meminta suatu bantuan besar, ia berkata, "Permisi, bolehkah aku datang dan tinggal disini lagi lain kali bila aku harus kembali berobat? Saya sungguh tidak akan merepotkan anda sedikitpun.Saya bisa kok tidur enak dikursi."Ia berhenti sejenak dan lalu menambahkan, "Anak2 anda membuatku begitu merasa kerasan seperti di rumah sendiri. Orang dewasa rasanya terganggu oleh rupa buruknya wajahku, tetapi anak2 tampaknya tidak terganggu." Aku katakan silahkan datang kembali setiap saat.

Ketika ia datang lagi, ia tiba pagi2 jam tujuh lewat sedikit. Sebagai oleh2, ia bawakan seekor ikan besar dan satu liter kerang oyster terbesar yang pernah kulihat. Ia bilang, pagi sebelum berangkat, semuanya ia kuliti supaya tetap bagus dan segar. Aku tahu bisnya berangkat jam 4.00 pagi, entah jam berapa ia sudah harus bangun untuk mengerjakan semuanya ini bagi kami. Selama tahun2 ia datang dan tinggal bersama kami, tidak pernah sekalipun ia datang tanpa membawakan kami ikan atau kerang oyster atau sayur mayur dari kebunnya. Beberapa kali kami terima kiriman lewat pos, selalu lewat kilat khusus, ikan dan oyster terbungkus dalam sebuah kotak penuh daun bayam atau sejenis kol, setiap helai tercuci bersih. Mengetahui bahwa ia harus berjalan sekitar 5 km untuk mengirimkan semua itu, dan sadar betapa sedikit penghasilannya, kiriman2 dia menjadi makin bernilai...

Ketika aku menerima kiriman oleh2 itu, sering aku teringat kepada komentar tetangga kami pada hari ia pulang ketika pertama kali datang. "Ehhh, kau terima dia bermalam ya, orang yang luar biasa jelek menjijikkan mukanya itu? Tadi malam ia kutolak. Waduhh, celaka dehh.., kita kan bakal kehilangan langganan kalau nerima orang macam gitu!" Oh ya, memang boleh jadi kita kehilangan satu dua tamu. Tapi seandainya mereka sempat mengenalnya, mungkin penyakit mereka bakal jadi akan lebih mudah untuk dipikul.

Aku tahu kami sekeluarga akan selalu bersyukur, sempat dan telah mengenalnya; dari dia kami belajar apa artinya menerima yang buruk tanpa mengeluh, dan yang baik dengan bersyukur kepada Allah.

Baru2 ini aku mengunjungi seorang teman yang punya rumah kaca. Ketika ia menunjukkan tanaman2 bunganya, kami sampai pada satu tanaman krisan [timum] yang paling cantik dari semuanya, lebat penuh tertutup bunga berwarna kuning emas. Tapi aku jadi heran sekali, melihat ia tertanam dalam sebuah ember tua, sudah penyok berkarat pula. Dalam hati aku berkata,"Kalau ini tanamanku, pastilah sudah akan kutanam didalam bejana terindah yang kumiliki."

Tapi temanku merubah cara pikirku. "Ahh, aku sedang kekurangan pot saat itu," ia coba terangkan, "dan tahu ini bakal cantik sekali, aku pikir tidak apalah sementara aku pakai ember loak ini. Toh cuma buat sebentar saja, sampai aku bisa menanamnya ditaman." Ia pastilah ter-heran2 sendiri melihat aku tertawa begitu gembira, tapi aku membayangkan kejadian dan skenario seperti itu disurga.

"Hah, yang ini luar biasa bagusnya," mungkin begitulah kata Allah saat Ia sampai pada jiwa nelayan tua baik hati itu." Ia pastilah tidak akan keberatan memulai dulu didalam badan kecil ini."

Semua ini sudah lama terjadi, dulu dan kini, didalam taman Allah, betapa tinggi mestinya berdirinya jiwa manis baik ini.

Sahabat2 adalah istimewa sekali. Mereka membuatmu tersenyum dan mendorongmu jadi sukses. Mereka meminjamimu sebuah kuping dan berbagi suatu kata pujian. Tunjukkan kawan2mu betapa kau peduli.. Buatlah seseorang tersenyum hari ini.


"Your failure is not a reason for GOD to stop loving you" people won't remember what you say, people won't remember what you do. but people will remember how you made them feel ::

Jumat, Oktober 05, 2007

Gelas-gelas Bening

Bila mana ada gelas bening di atas meja di depan anda,
coba perhatikan.

Anda akan bisa melihat dengan jelas akan isinya. Bila isinya teh kelihatan akan terlihat berwarna coklat, bila kopi akan bewarna hitam. Namun bila gelas tersebut dari porselen atau metal, maka kita sulit melihat dan mengetahui isinya.


Di dalam hidup persoalan-persoalan suntuk yang ada dikepala dan permasalahan yang ada di lingkungan sekitar anda, hendaknya dipecahkan dengan kebeningan hati dan pikiran. Dari sini anda akan lebih mudah membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang prioritas dan mana yang bukan. Sehingga apa pun persoalan yang ada akan bisa anda selesaikan dengan baik dan bijaksana.

sumber: Sinang Bulawan

Selasa, Oktober 02, 2007

Koin Penyok


Sebuah koin penyok

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.

Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya."Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok," gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank."Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno," kata teller itumemberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30dollar. Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini.

Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnyabeberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itumendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampasuang itu, lalu kabur.Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, "Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?"Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, "Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi".

Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?

Kisah berikut, diadaptasi dari The Healing Stories karya GW Burns

Selasa, September 25, 2007

Antara Kopi dan Cangkir

Sekelompok alumni sebuah universitas mengadakan reuni di rumah salah seorang profesor favorit mereka yang dianggap paling bijak dan layak didengarkan.
Satu jam pertama, seperti umumnya diskusi di acara reuni, diisi dengan
menceritakan (baca: membanggakan) prestasi di tempat kerja masing-masing.
Adu prestasi, adu posisi dan adu gengsi, tentunya pada akhirnya bermuara pada berapa $ yang mereka punya dan kelola, mewarnai acara kangen-kangenan ini.

Jam kedua mulai muncul guratan dahi yang menampilkan keadaan sebenarnya.
Hampir semua yang hadir sedang stres karena sebenarnya pekerjaan,
prestasi, kondisi ekonomi, keluarga dan situasi hati mereka tak secerah apa yang mereka miliki dan duduki. Bahwa dolar mengalir deras, adalah sebuah fakta yang terlihat dengan jelas dari mobil yang mereka kendarai serta merek baju dan jam tangan yg mereka pakai. Namun di lain pihak, mereka sebenarnya sedang dirundung masalah berat, yakni kehilangan makna hidup. Di satu sisi mereka sukses meraih kekayaan, di sisi lain mereka miskin dalam menikmati hidup dan kehidupan itu sendiri. They have money but not life.

Sang profesor mendengarkan celotehan mereka sambil menyiapkan seteko kopi hangat dan seperangkat cangkir. Ada yang terbuat dari kristal yang mahal, ada yang dari keramik asli Cina oleh-oleh salah seorang dari mereka, dan ada pula gelas dari plastik murahan untuk perlengkapan perkemahan sederhana.
"Serve yourself," kata profesor, memecah kegerahan suasana. Semua
mengambil cangkir dan kopi tanpa menyadari bahwa sang profesor sedang melakukan kajian akademik pengamatan perilaku, seperti layaknya seorang profesor yang senantiasa memiliki arti dan makna dalam setiap tindakannya.

"Jika engkau perhatikan, kalian semua mengambil cangkir yang paling
mahal dan indah. Yang tertinggal hanya yang tampaknya kurang bagus dan murahan.
Mengambil yang terbaik dan menyisakan yang kurang baik adalah sangat normal dan wajar. Namun, tahukah kalian bahwa inilah yang menyebabkan kalian stres dan tidak dapat menikmati hidup?" sang profesor memulai wejangannya.
"Now consider this: life is the coffee, and the jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and
do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided," kali ini kalimatnya mulai menekan hati. "So, don't let the cups drive you, enjoy the coffee instead,"
demikian ia berkata sambil mempersilakan mereka menikmati kopi bersama.

Sewaktu membaca e-mail yang dikirim rekan saya Ucup, begitu panggilan akrabnya, saya ikut tertegun. Sesederhana itu rupanya. Profesor yang bijak selalu membuat yang sulit jadi mudah, sedangkan politikus selalu membuat yang mudah jadi sulit. Betapa banyak di antara kita yang salah menyiasati hidup ini dengan memutarbalikkan kopi dan cangkir. Tak jelas apa yang ingin kita nikmati, kopi yang enak atau cangkir yang cantik.

Ada tiga tipe pekerja (baca: profesional dan pengusaha) yang sering kita
lihat dalam menyiasati kopi dan cangkir kehidupan ini. Pertama, pekerja yang sibuk mengejar pekerjaan, jabatan yang akhirnya hanya bertumpu pada kepemilikan jumlah dan kualitas cangkir kehidupan. Paradigmanya sangat sederhana, semakin banyak cangkir yang dipunyai, semakin bercahaya.
Semakin bagus cangkir yang dimiliki akan mengubah rasa kopi menjadi enak. Fokus hidup hanya untuk menghasilkan kuantitas dan kualitas cangkir. Ini yang menyebabkan terus terjadinya persaingan untuk menambah kepemilikan.
Sukses diukur dengan seberapa banyak dan bagus apa yang dimiliki. Kala yang lain bisa membeli mobil mewah, ia pun terpacu mendapatkannya. Alhasil, tingkat stres menjadi sangat tinggi dan tak ada waktu untuk membenahi kopi.
Semua upaya hanya untuk bagian luar, sedangkan bagian dalam semakin ketinggalan.

Kedua, pekerja yang menyadari bahwa kopinya ternyata pahit -- artinya
hidup yang terasa hambar; penuh kepahitan, dengki dan dendam; serta tak ada damai dan kebahagiaan -- mencoba menutupnya dengan menyajikannya dalam cangkir yang lebih mahal lagi. Pikirannya juga sangat mudah, kopi yang tidak enak akan terkurangi rasa tidak enaknya dengan cangkir yang mahal. Rasa kurang dicintai rekan kerja, dikompensasi dengan mengadopsi anak asuh dan angkat.
Tak merasa diperhatikan, dibungkus dengan memberikan perhatian pada korban gempa di Yogyakarta. Tak menghiraukan lingkungan, ditutup halus dengan program environmental development yang harus diresmikan pejabat Kementerian Lingkungan Hidup. Tak emperhatikan orang lain dengan tulus, dibalut dengan program community development yang wah. Kalau tidak hati-hati, akan muncul
pengusaha kaum Farisi yang munafik bagai kubur bersih, tapi di dalamnya sebenarnya tulang tengkorak yang jelek dan bau.

Ketiga, ada pula pekerja yang berkonsentrasi membenahi kopinya agar
lebih enak, semakin enak dan menjadi sangat enak. Tipe ini tak terlalu pusing dengan penampilan cangkir. Pakaian yang mahal dan eksklusif tak mampu membuat borok jadi sembuh. Makanan yang mahal tak selalu membuat tubuh jadi sehat, malahan yang terjadi acap sebaliknya. Fokus pada kehidupan dan hidup menyebabkan ia dapat santai menghadapi hari-hari yang keras. Ia tak mau berkompromi dengan pekerjaan yang merusak martabat, sikap dan kebiasaan.
Menyuap yang terus-menerus dilakukan hanya akan membuat dirinya tak mudah bersalah kala disuap. Fokus pada kopi yang enak, membuat ia tak mudah menyerah pada tuntutan pekerjaan, tekanan target penjualan yang mengontaminasi karakternya. Baginya, ini adalah kebodohan yang tak pernah dapat dipulihkan.

Profesor hidup lain lagi pernah berpetuah, "Take no thought for your
life, what you shall eat or drink, nor your body what you shall put on. Is not the life more than meat and the body than raiment?" Kalau kita tidak sadar, kita bakal terjerembap: mengkhawatirkan cangkir padahal seharusnya kita focus pada kopi. Enjoy your coffee, my friend!

Sidang Pembaca SWA.
Antara Kopi dan Cangkir
Kamis, 10 Agustus 2006
Oleh : Paulus Bambang W.S.

Apa Yang Kita Sombongkan..

Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang
benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat
terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya,
lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.

Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa
lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang
lain.

Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering
menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus
dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula
kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun
sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit
terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam
batin kita.

Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang
lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem)
dan kepercayaan diri (self-confidence) . Akan tetapi, begitu kedua hal
ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat
dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu
jelas.

Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan
kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam
keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan
waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang
kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa
kita memerlukan lebih banyak lagi.

Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego
inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka)
dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala
permasalahan.

Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran
sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua
perubahan paradigma yang perlu kita lakukan.

Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah
makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah
spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di
dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan
kosong. Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk
dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh
penampilan, label, dan segala "tampak luar" lainnya. Yang kini kita
lihat adalah "tampak dalam". Pandangan seperti ini akan membantu
menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.

Kedua, kita perlu menyadari bahwa apapun perbuatan baik yang kita
lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri.
Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.

Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan
kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita
dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali
kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun
kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak
lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri.
Kalau begitu, apa yang kita sombongkan dan ngapain juga sombong ?

Dikutip : Dari Seorang Sahabat

Rabu, September 19, 2007

BEKERJA DENGAN CINTA

Wanita paruh baya itu berperawakan pendek dan sedikit gemuk. Beberapa helai uban turut menghiasi mahkota kepalanya yang diikat dengan penjepit rambut. Namun raut wajah bulat telur itu seakan tak pernah sekalipun terlihat cemberut. Ia selalu tampak riang, sehingga menyembunyikan parasnya yang jelas telah digurati keriput.Wanita itu memang tidak terlalu renta, tetapi kekuatan dan kegesitan di masa mudanya niscaya telah direnggut usia. Karenanya, percayakah bahkan dari dirinya pun akan ada sebuah pelajaran tentang makna cinta?
* * *
Selalu... Sabtu adalah hari yang ditunggu. Hari di mana nafas bisa dihela dengan panjang, dan sejenak mengistirahatkan raga dari rentetan kesibukan yang melelahkan. Saatnya pula untuk menikmati kebersamaan dengan seisi anggota keluarga. Sehingga, berbelanja di sebuah supermarket dekat rumah pun menjadi hiburan yang tak kalah meruahkan kebahagiaan.

Namun sepertinya tidak bagi wanita itu. Bagaikan tak mengenal hari libur, nyaris setiap waktu sosoknya selalu kutemui di sekitar kokusai kouryuu kaikan serta kampus.Layaknya hari kerja, dikemasnya sampah-sampah yang berserakan serta dipisahkan antara yang terbakar dan tidak. Lantas ditaruhnya pada plastik yang berbeda warna. Sebentar kemudian diambilnya kain untuk mengelap kursi dan meja. Tak lupa, dengan vacuum cleaner dibersihkannya juga permukaan lantai. Setelah selesai ia segera beranjak ke toilet, lalu dengan mengenakan sarung tangan karet dibersihkannya bekas kotoran manusia tersebut tanpa raut muka jijik. Ia seperti tak peduli rasa lelah atau letih, walaupun terlihat pakaian seragam cleaning service biru mudanya telah basah bersimbah keringat. Tak juga kepenatan menyurutkan keramahannya untuk bertegur sapa dengan siapa saja saat bertemu muka.

Wanita itu entah siapa namanya. Hanya dengan panggilan obachan ia biasa disapa. Saat bersua denganku, juga selalu disempatkannya bertanya kabar. Bahkan ia pernah bercerita panjang lebar tentang anak-anak serta cucunya karena sering melihatku berjalan-jalan dengan keluarga. Beberapa kali pula saat usai kerja kulihat ia sedang berbelanja, masih lengkap dengan seragam biru mudanya. Lantas ditaruh barang-barang tersebut di keranjang, dan perlahan dikayuhnya pedal sepeda tua untuk beranjak pulang.

Entahlah, rasanya tak ada perasaan iri dihatinya saat di hari libur ia ternyata harus bekerja, sementara aku justru berleha-leha. Ia bahkan tetap saja semangat bekerja dengan penuh suka cita. Begitu pula dengan obachan dan ojichan lain yang pernah kutemui, mereka selalu asyik menikmati pekerjaannya. Mencabut rumput liar di pekarangan kampus ketika musim panas, menyapu jalanan dari daun yang berserakan pada musim gugur, bahkan dengan bersusah payah turut menyerok tumpukan bongkahan salju di musim dingin. Terlihat betapa bergairahnya mereka ketika memang waktunya harus bekerja. Gairah dalam bentuk kesungguhan dalam menekuni apapun jenis pekerjaan, yang mungkin tak dipandang orang walau dengan sebelah mata. Karenanya, tak terdengar ngalor-ngidul obrolan hingga jam istirahat tiba untuk sejenak melepaskan lapar dan dahaga.

Berselang satu jam kemudian, mereka akan kembali sibuk menekuni pekerjaannya. Senantiasa begitu, dari waktu ke waktu.Rutinitas mereka mungkin tidaklah istimewa. Bekerja demi memperoleh sedikit nafkah atau sekedar menghabiskan waktu luang, tentu lebih baik dari bermalas-malasan di rumah. Terlebih-lebih itu adalah pekerjaan kasar, bukan kerja kantoran yang menyenangkan dengan penyejuk atau pemanas ruangan. Lalu mengapa mereka selalu saja bekerja seolah tak pupus oleh lelah? Bahkan bekerja bagaikan sebuah energi yang tak kunjung padam, mengalir dalam pembuluh darah serta menggerakkan jiwa dan raganya.

Sekejap akupun terpekur, kemudian masyuk merenung...
Dan kulihat ada gairah membara yang berpendar dari balik kerut-merut kelopak mata tua itu.
Seolah sinar matanya menyiratkan pesan agar bekerjalah dengan cinta. Karena bila engkau tiada sanggup, maka tinggalkanlah. Kemudian ambil tempat di depan gapura candi untuk meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan suka cita (Kahlil Gibran)
*MERENGKUH CINTA DALAM BUAIAN PENA*

Catatan:
- Kokusai kouryuu kaikan: International House
- Obachan: wanita berumur, setengah tua
- Ojichan: pria berumur, setengah tua

Selasa, September 18, 2007

Syukur

SYUKUR

Aku tak selalu mendapatkan apa yang kusukai, oleh karena itu aku selalu menyukai apapun yang aku dapatkan

kata-kata di atas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting.
Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.
Ada dua hal yang sering membuat tak bersyukur, yaitu:
1. Kita sering menfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Kita ingin ini, itu. Bila tak mendapatkan kita terus memikirkannya. Anehnya, bila sudah mendapatkan, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas dan ingin lebih lagi

2. Kecenderungan membanding-bandingk an diri dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada yang lebih pandai, lebih tampan, lebih kaya, lebih percaya diri dst....

Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. karena itu bersyukur merupakan kualitas hati tertinggi.

Bersyukurlah!
Besyukurlah belum memiliki segala. Seandainya sudah, apa lagi yang harus diinginkan?
Bersyukurlah karena tidak tahu sesuatu, karena memberi kesempatan untuk belajar
Bersyukurlah untuk masa-sama sulit. Di masa itulah kamu bertumbuh
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu. Karena memberimu kesempatan untuk berkembang menjadi lebih baik
Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru. karena itu akan membangun karakter dan kekuatanmu
Besyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat. Itu akan mengajarkan pelajaran berharga
Besyukurlah bila kamu letih. karena itu telah membuat suatu perbedaan

Mungkin mudah untuk bersyukur akan hal-hal baik.
Hidup berkelimpahan datang pada mereka yang bersyukur pada masa surut.
Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif

Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkat bagimu



Thanks to : Judith Endah Dwijanti
I've Been Through the Storm, and I'm Still Standing

my TCI Surabaya Colleague